Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) menilai penanganan wabah virus Corona COVID-19 selama 6 bulan sejak kasus Corona pertama kali merebak di Indonesia tidak efektif. Banyak hal di antaranya yang dinilai tidak sesuai dengan metode standar penanganan wabah.
Menyurati Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, PAEI mendesak agar segera melakukan evaluasi terkait langkah mencegah penyebaran Corona. Hal ini demi memastikan kasus konfirmasi dapat segera ditemukan.
"Diperlukan adanya peningkatan jumlah suspek yang dites sesuai dengan metode surveilans yang komprehensif melalui contact tracing dan surveilans suspek untuk meningkatkan kinerja penemuan kasus secara tepat sasaran," sebut rilis yang diterima detikcom pada Senin (17/8/2020).
"Kementerian Kesehatan agar segera melakukan evaluasi komprehensif dan menentukan langkah-langkah selanjutnya agar pandemi ini dapat terkendali sesuai metodologi epidemiologi yang terstandar," lanjut rilis tersebut.
Analisis situasi Indonesia dalam menghadapi wabah Corona menurut PEAI perlu diperhatikan terkait dengan angka kematian. Angka kematian Corona di Indonesia cukup tinggi, dan belum ada tanda wabah Corona di Indonesia akan berakhir.
"Hasil analisa epidemiologi menunjukkan bahwa periode pandemi yang berlangsung lebih dari 5 bulan ini belum ada tanda-tanda akan berakhir. Bahkan di dua minggu terakhir bulan Agustus ini kasus terus meningkat di beberapa wilayah," jelas rilis PAEI.
"Sejak initial case diumumkan Presiden Republik Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020, jumlah kasus konfirmasi Covid-19 sampai dengan 16 Agustus 2020 sebanyak 137,468 dengan kematian 6,071 (CFR 4,4 persen) dengan kesembuhannya 66,4 persen. CFR Indonesia 2,2 kali lebih tinggi dibandingkan Asia
Tenggara," lanjut rilis PAEI.
Ilmuwan AS Kembangkan Tes Corona dengan Air Liur
Tes virus Corona COVID-19 harus dilakukan sebagai upaya untuk mencegah penyebaran dan mengatasi pandemi ini. Saat ini, umumnya tes dilakukan dengan usapan atau swab di hidung dan pangkal tenggorokan, serta sampel darah seperti digunakan pada rapid test berbasis antibodi.
Baru-baru ini, para peneliti di Yale School of Public Health mengembangkan satu bentuk tes baru yaitu SalivaDirect. Tes ini disebut sudah mengantongi izin dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat.
Berbeda dengan tes COVID-19 lainnya, tes berbasis air liur ini tidak membutuhkan alat usap atau pengumpul tertentu untuk mendapatkan sampelnya. Selain itu, tes ini diklaim lebih murah dari tes-tes COVID-19 yang sudah ada sebelumnya.
"Kami menyederhanakan tes ini, sehingga hanya membutuhkan beberapa dolar saja untuk reagen. Kami berharap, biaya yang dibutuhkan laboratorium hanya 10 dolar (149.130 rupiah) per sampelnya," kata asisten profesor epidemiologi di Yale, Nathan Grubaugh yang dikutip dari CNN International, Senin (17/8/2020).
Grubaugh mengatakan, jika tes SalivaDirect bisa jadi tes alternatif yang murah, ini dapat diterapkan di seluruh negeri.
"Jika tes SalivaDirect ini bisa diterapkan di seluruh negeri, kami mungkin bisa mengatasi pandemi ini bahkan sebelum vaksin ada," jelasnya.
Para peneliti mengatakan, tes COVID-19 berbasis air liur ini bisa memberikan hasil dalam waktu yang lebih cepat, yaitu kurang dari tiga jam. Tak hanya itu, akurasi hasil tes ini dinilai setara dengan hasil dari tes swab.
Para peneliti mengatakan tes SalivaDirect ini akan segera tersedia untuk umum dalam beberapa minggu mendatang.
Menurut FDA, rencananya Yale akan mempublikasi tempat-tempat yang bisa melakukan tes ini dengan mengikuti protokol dan instruksi dari Yale School of Public Health tersebut.
https://cinemamovie28.com/what-a-good-secretary-wants/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar