Untuk memberikan kepercayaan kepada pengguna, TikTok data server miliknya tidak disimpan di China, melainkan di Singapura. Sebelumnya, TikTok dan puluhan aplikasi asal negeri Tirai Bambu diblokir di India karena dinilai membahayakan data pengguna.
Meskipun beberapa waktu lalu pemblokiran aplikasi China di India ini tak terlepas dari insiden tewasnya 20 tentara negeri Bollywood dalam bentrokan dengan tentara China di perbatasan Himalaya. Sementara itu, data pengguna TikTok yang disimpan di Singapura ini khusus untuk Singapura.
Dalam surat TikTok kepada Pemerintah India tertanggal 28 Juni yang dilihat oleh Reuters, CEO TikTok Kevin Mayer menjelaskan bahwa Pemerintah China tidak pernah meminta data pengguna. Adapun bila memang terjadi, TikTok mengklaim kalau perusahaannya tidak akan memberikannya.
"Saya dapat mengkonfirmasi bahwa Pemerintah China tidak pernah meminta kepada kami untuk data TikTok dari pengguna India," tulis Mayer dilansir Reuters, Sabtu (4/7/2020).
Untuk menyakinkan mereka, Mayer bahkan mengungkapkan kalau data server pengguna India tidak ada di China, melainkan di Singapura.
"Jika kami pernah menerima permintaan seperti itu di masa depan, kami tidak akan mematuhinya," kata Mayer.
"Privasi pengguna kami, serta keamanan dan kedaulatan India, sangat penting bagi kami. Kami telah mengumumkan rencana kami untuk membangun pusat data di India," kata Mayer.
Disebut surat tersebut dikirimkan TikTok sebelum adanya pertemuan antara Pemerintah India dan anak perusahaan ByteDance pada minggu depan. Sementara menurut sumber yang akrab dengan Pemerintah India, larangan TikTok Cs di India tidak mungkin dicabut dalam waktu dekat ini.
Akibat larangan aplikasi TikTok di India menimbulkan kekecewaan sejumlah bintang TikTok yang terus bertambah di negeri sana. Di sisi lain, pesaing TikTok yang berasal dari India, Roposo, menambah 22 juta pengguna baru dalam 48 jam setelah larangan diberlakukan.
Belum Kapok! Password '123456' Masih Tetap Populer
Semakin maraknya kejahatan siber yang terjadi ternyata tak bisa membuat semua orang sadar akan pentingnya password akun yang mereka pakai di dunia maya.
Buktinya, dalam laporan yang dibuat oleh Ata Hakçıl, seorang mahasiswa teknik komputer, dari satu miliar password yang bocor di dunia maya, tujuh juta di antaranya adalah '123456', atau tepatnya satu dari 142 password.
Satu miliar password tersebut dikumpulkan dari 'data dump' hasil peretasan selama empat tahun ke belakang, dan jumlahnya terus meningkat karena semakin banyak perusahaan yang menjadi korban peretasan.
'Data dump' atau kumpulan data ini bisa ditemukan dengan mudah di dunia maya, tepatnya di situs seperti GitHub atau GitLab, atau bahkan beredar dengan bebas di bermacam forum hacking, demikian dikutip detikINET dari Zdnet, Sabtu (4/7/2020).
Selama bertahun-tahun, berbagai perusahaan teknologi sudah mengumpulkan kumpulan data hasil peretasan ini untuk diteliti. Seperti yang dilakukan Google, Microsoft, dan Apple. Data tersebut diteliti agar mereka bisa memperingatkan penggunanya saat mereka menggunakan password yang tak cukup kuat atau sudah terlalu sering dipakai.
Sementara dalam penelitian Hakçıl, dari satu miliar password itu hanya ada 168.919.919 password yang unik. Sementara ada lebih dari tujuh juta password yang isinya adalah '123456', yang bisa dibilang adalah password paling berbahaya saat ini karena sudah lima tahun berturut-turut menjadi password paling sering digunakan.
Dalam penelitian tersebut juga disebutkan bahwa rata-rata password hanya menggunakan 9,48 karakter, yang menurutnya tak cukup aman meski tak buruk juga. Kebanyakan peneliti keamanan menyarankan penggunaan password sepanjang mungkin, meski pada kenyataannya 16 sampai 24 karakter sudah cukup.
https://nonton08.com/director/sam-blair/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar