Senin, 06 Juli 2020

Kisah Sukses CEO Wardah, dari Bisnis Rumahan Jadi Perusahaan Multinasional

Siapa yang kini tak tahu merek Wardah. Padahal dulu 33 tahun saat baru berdiri, produk kosmetik ini dijajakan dari rumah ke rumah. Chief Executive Officer (CEO) PT Paragon Technology and Innovation, Dra. Nurhayati Subakat, Apt. dan Chief Marketing Officer PT Paragon Technology and Innovation Salman Subakat berbagi cerita kepada Wolipop bagaimana Wardah bisa berkembang hingga kini menjadi perusahaan multinasional.

Bahkan pada 2018 ini Wardah mencatat sebagai perusahaan kosmetik nomer satu di bidang penjualan moisturizer atau pelembab. Wardah berhasil mengalahkan merek kosmetik lainnya yang banyak hadir di Indonesia.

"Tahun ini bisa menang untuk penjualan mosturizer dengan perusahaan multinasional lainnya. Alhamdulillah berkat kepercayaan masyarakat seri moisturizer Wardah menjadi nomer satu (penjualannya)," ujar Nurhayati saat berbincang dengan Wolipop belum lama ini di kantornya, PT Paragon Technology and Innovation, di Jl. Swadharma Raya No.60, Kampung Baru III, Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Kesuksesan Wardah tentu saja bukan hanya dari penjualan mereka yang produk pelembabnya bisa menduduki nomer satu. Begitu banyak pencapaian Wardah yang sebelumnya dibangun dari bisnis rumahan. Berikut wawancara Wolipop dengan Nurhayati Subakat dan Salman Subakat:

Wolipop: Bagaimana ceritanya bisa membuat merek Wardah?

Nurhayati Subakat: Pertama sebenarnya saya membuat merek Putri, itu produk salon. Baru Wardah, kemudian Makeover dan terakhir Emina. Saya sebelumnya pernah bekerja di Wella Cosmetic dari tahun 1979 sampai 1985. Setelah di Wella lima tahun, CEO baru meminta saya bekerja full time. Sebelumnya waktunya lebih fleksibel. Anak-anak masih kecil, anak saya sampai tiga waktu bekerja di sana, kebayang repotnya karena saya tinggal di daerah dekat-dekat sini (Ulujami, Jakarta Selatan), sementara bekerja di Bogor. Akhirnya saya memilih mundur.

Dengan latar belakang saya lulusan terbaik farmasi ITB (Institut Teknologi Bandung) dan di Wella lima tahun, pada 1985 saya bikin Putri, skala home industry. Walaupun home industry, produknya berkualitas tapi harga bersaing. Modal uang saat itu nggak besar. Tapi saya punya rumah dan mobil sebagai aset. Mobil untuk jualan dan rumah untuk produksi.

Awalnya saya jual Putri di salon-salon pinggiran daerah Tangerang. Putri berkembang terus. Lalu ada kenalan, kenapa nggak buat produk Islami. Pada 1995 saya membuat Wardah. Nama itu karena dasarnya ingin Islami, jadi kiblatnya ke Arab. Saat itu ada tiga nama yang didaftarkan ke kantor merek, saya lupa aja saja. Yang saya ingat yang diterima Wardah. Wardah itu artinya bunga mawar.

Chief Executive Officer (CEO) PT Paragon Technology and Innovation, Dra. Nurhayati Subakat, Apt. Chief Executive Officer (CEO) PT Paragon Technology and Innovation, Dra. Nurhayati Subakat, Apt. Foto: Dok. Wardah


Wolipop: Setelah dirilis apakah Wardah langsung sukses?

Nurhayati Subakat: Wardah dulu susah jualnya nggak langsung sukses. Kita jual lewat berbagai cara direct selling, lewat MLM (Multi Level Marketing). Kemudian generasi kedua masuk Salman dan pada 2003 MLM turun. Kita perbaiki sistem Wardah. Pada 2004 sudah mulai diperbaiki brandingnya. Pada 2009 kita re-branding besar-besaran. Setelah itu penjualan naik terus. Malah 2012 pernah sampai 100%.

Sekarang Paragon juga punya lebih dari 7.500 karyawan terbaik di bidangnya di seluruh Indonesia. Setiap tahun, kapasitas produksi kami lebih dari 95 juta produk personal care dan make up.

Untuk pabrik kami punya 15 hektar dan baru saja tambah lagi empat hektar di Jatake, Tangerang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar