Pandemi Corona membuat banyak orang kehilangan penghasilan dan pekerjaan. Tak hanya pedagang atau pekerja di tempat publik, profesi pramugari juga terancam karena penyakit menular ini. Seorang pramugari pun bercerita mengenai kesehariannya yang beralih dari melayani penumpang pesawat menjadi menata barang di supermarket.
Sara Haider dan 8000 pekerja Virgin Atlantic lain terpaksa harus cuti dari pekerjaannya sebagai pramugari. Dari profesi yang dikenal glamour tersebut, Sara beralih ke supermarket karena tidak ingin duduk diam di rumah dan tidak melakukan apa-apa meski gaji pekerjaan barunya tidak seberapa. Selain untuk menambah penghasilan, Sara pun ingin membantu lingkungan di masa krisis ini.
"Aku melamar untuk bergabung dengan tim di Asda jadi aku bisa berkontribusi dalam komunitas. Apakah itu dengan terbang ke AS, Karibia, Timur Jauh atau Afrika Selatan, aku selalu senang bekerja dengan orang dan tetap aktif.
"Jadi pekerjaan ini cocok untukku selama menunggu kehidupan kembali normal. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan pekerjaan baru dan aku sangat senang bisa mengambil peran dalam menyediakan makanan untuk bangsa," kata Sara kepada Dailymail.
"Negaramu membutuhkanmu. Jika itu menjadi garda terdepan dalam menata rak atau mengendarai truk pengantar, aku siap. Aku menghabiskan kebanyakan pagiku melamar pekerjaan seperti ini. Jika aku tidak dapat melakukan dua karier sekarang aku ingin membantu negara ketika dibutuhkan," ungkap wanita 36 tahun yang juga binaragawan itu di Instagram.
Sebelum lockdown ditetapkan, Sara masih sempat bekerja sebagai pramugari akhir Maret lalu. Ia pun berharap bisa berjumpa lagi dengan para penumpang dan perusahaannya bisa melalui krisis pandemi.
Sebelumnya bos Virgin Atlantic Richard Branson dikritik karena meminta uang bantuan dari pemerintah karena pandemi Corona meski ia sendiri dikenal sebagai salah satu orang terkaya dunia.
Cegah Virus Corona, Pria di China Dilarang Pakai 'Bikini' Seperti Ini
Angka penyebaran virus Corona di China memang sudah berhasil ditekan. Namun warganya masih disarankan untuk menggalakkan kebersihan. Salah satunya adalah dengan melarang para pria mengenakan 'bikini Beijing'. Bukan baju untuk dipakai berenang, 'bikini Beijing' adalah kebiasaan menggulung atasan hingga memperlihatkan perut dan dada di tempat publik.
Beijing telah membuat peraturan yang menuntut warganya berpakaian rapi dan tidak meninggalkan atasan di tempat publik. Hal ini digalakkan untuk meningkatkan kebersihan demi memberantas mata rantai penularan virus COVID-19 yang berawal dari China.
Dilansir AFP, salah satunya adalah dengan melarang bikini Beijing yang sering jadi tren di kalangan para pria ketika musim panas. Yakni menggulung kaus mereka hingga bagian dada untuk mencegah kegerahan. Mulai Minggu lalu, pria-pria di ibu kota China sudah tidak diperkenankan memamerkan perut mereka untuk alasan kesehatan bersama.
Sebelum 'bikini Beijing' dilarang di ibu kota negara, salah satu wilayah China juga pernah menerapkan aturan serupa tapi untuk alasan yang berbeda. Setahun lalu Jinan menetapkan bahwa menggulung kaus di muka umum seperti itu tidak diperkenankan karena dianggap kurang beradab dan mempengaruhi imej kota.
Selain tidak memakai 'bikini', beberapa aturan yang kini semakin digalakkan antara lain menutup hidup atau mulut ketika batuk dan bersin. Orang-orang yang meludah atau buang air sembarang juga akan didenda dengan harga lebih mahal menjadi 200 yuan (Rp 437 ribuan).
Untuk mencegah serangan infeksi virus kedua, beberapa tempat publik seperti gym dan kolam renang juga masih ditutup untuk sementara waktu.
https://nonton08.com/setup/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar