Jumat, 07 Agustus 2020

Pasien Corona Alami Cegukan Berturut-turut Selama 4 Hari, Gejala Baru COVID-19?

Studi baru yang dimuat dalam American Journal of Emergency Medicine menunjukkan bahwa cegukan terus-menerus, sebenarnya bisa menjadi gejala virus Corona COVID-19. Hal ini berawal dari kasus seorang pria berusia 62 tahun yang dilaporkan mengalami gejala cegukan terus menerus selama empat hari.
Dikutip dari Forbes, dalam laporan kasus tersebut, Garrett Prince, MD, dan Michelle Sergel, MD, para peneliti dari Cook County Health melaporkan pria ini juga mengalami penurunan berat badan hingga belasan kilogram. Tetapi, belum jelas kondisi apa yang mendasari pria tersebut akhirnya kehilangan berat badan.

Pria tanpa riwayat penyakit paru-paru ini mencari bantuan medis usai mengalami cegukan selama empat hari. Namun, ketika pria ini dirawat di rumah sakit ia tidak memiliki gejala COVID-19 yang umum terjadi seperti sesak napas atau sakit tenggorokan.

Suhu tubuhnya pun kala itu disebut normal, tidak demam yaitu 37,2 derajat Celcius. Ronsen dada pun dilakukan dan hasilnya menunjukkan kekeruhan tak berdasar, di mana ada daerah atau bagian kabur yang tidak biasa di paru-paru kanan atas dan paru-paru bagian tengah, serta bagian kiri bawah.

Menurut penelitian, staf medis akhirnya mengirim tes COVID-19 ke laboratorium dan mengkategorikan pasien sebagai suspek COVID-19. Suhu tubuh yang sebelumnya normal pun naik saat tiba di unit medis hingga 38,3 derajat Celcius. Satu hari setelah dirawat, hasilnya pun menunjukkan ia positif virus Corona COVID-19.

"Sepengetahuan kami, ini adalah laporan kasus pertama dari cegukan terus-menerus yang muncul pada pasien COVID-19. Ini menekankan pentingnya evaluasi rinci pada mereka yang mengalami cegukan. Minimal mengambil riwayat menyeluruh, pemeriksaan fisik, diperiksa di laboratorium dasar, dan ronsen dada," sebut para peneliti.

Koma Setelah Terinfeksi, Pria Ini Juga Kehilangan Keluarga karena Corona

 Seorang pria dilaporkan hampir meninggal karena virus Corona. Ia pun sempat mengalami koma kala dirawat di Edinburgh Royal Infirmary.
Dikutip dari Daily Star, setelah ia sadar dari koma, ia menyadari bahwa hanya dirinya yang selamat dari penyakit COVID-19. Scott Miller, 43 tahun, dari Edinburgh, menghabiskan tiga minggu dalam perawatan intensif saat koma, sebelum akhirnya sadar dan diberi tahu ibunya Norma (76), dan pasangannya (69), keduanya meninggal karena virus Corona.

Ibunya, Norma, saat itu juga berada di rumah sakit yang sama setelah dinyatakan positif COVID-19, sementara pasangannya atau Ayah Scott yang berusia 69 tahun juga dilaporkan sakit parah.

"Ketika saya datang, saya hanya punya firasat bahwa sesuatu telah terjadi pada ibu dan ketika perawat memberi tahu saya itu hanya ketidakpercayaan dan syok. Itu sangat sulit," katanya, dikutip dari Daily Star.

Scott, dari Edinburgh, kemudian mengetahui bahwa sang ayah juga telah meninggal dunia.

"Lagi-lagi itu hanya ketidakpercayaan bahwa perlu dua orang yang menjadi bagian dari kehidupan saya sehari-hari," tambahnya.

Kakak ipar Scott, Sharlene Miller, mengatakan kepada BBC bahwa dalam seminggu antara pemakaman Norma dan pasangannya, rumah sakit menelepon keluarga tersebut untuk mengatakan bahwa mereka tidak yakin apakah Scott yang sempat koma akan selamat.

Dia mengalami koma dan menghabiskan tiga minggu dalam perawatan intensif sebelum akhirnya sembuh. "Orang-orang perlu memahami bahwa ini adalah pembunuh yang nyata, saya rasa orang-orang tidak menganggapnya serius," kata Scott.
https://nonton08.com/the-fearless-vampire-killers/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar