Pasangan suami-istri di Tulungagung jadi pembicaraan di media sosial. Sang suami disebut menceraikan istrinya karena sering bertengkar, tidak sanggup melayani permintaan bercinta dari istri.
Kejadian ini dibenarkan pengacara, Muhammad Hufrok Efendi yang menangani kasus tersebut. Ia menceritakan sang istri meminta berhubungan intim hingga sembilan kali dalam sehari.
"Jadi memang betul itu kasus yang saya tangani. Kalau dilihat dari latar belakangnya salah satu pemicunya itu istrinya hiperseksual. Kemudian dari situlah muncul pertengkaran. Nah, yang dijadikan materi perceraian itu pertengkarannya, bukan hubungan seksualnya, karena itu sangat pribadi," jelas Hufron saat dihubungi detikcom.
Menanggapi hal tersebut, seksolog dr Heru H. Oentoeng, MRepro, SpAnd, dari RS Siloam Kebon Jeruk, mengatakan sang istri bisa dikatakan memiliki kondisi hiperseksual. Ini karena permintaan bercinta yang terlalu berlebihan sampai menimbulkan konflik.
"Masuk dalam hiperseksual karena permintaannya yang menggebu-gebu dan juga karena ada konflik sampai menimbulkan pertengkaran," kata dr Heru saat dihubungi detikcom, Minggu (16/8/2020).
Umumnya, seseorang yang mengalami hiperseksual tidak dapat dilihat dari penampilan fisik yang mudah diamati dan dinilai dengan jelas dari luar. Ini hanya bisa diketahui dari aktivitas seksualnya.
"Engga ada cara umum, penampakan ngga ada. Cuman hiperseksual itu kan menilai dari aktivitas seksualnya, dia minta terus minta terus sampai bikin pertengkaran karena kalau tidak digituin dia ngamuk," jelasnya.
Menurut dr Heru, rata-rata hiperseksual bisa disebabkan oleh beberapa faktor yaitu gangguan otak dan gangguan hormonal. Seseorang yang mengalami hiperseksual dapat disembuhkan apabila sudah mengetahui secara pasti faktor penyebab.
"Evaluasi dulu penyebabnya apa. Bisa saja jadi hiperseksual ada gangguan tertentu. Bisa dari otaknya gangguan mental organik, jadi gangguan itu bisa ke saraf pusat otak, atau sel hormonalnya terlalu tinggi sehingga gairahnya sangat tinggi," pungkasnya.
Sekolah Mulai Dibuka, Ini Cara Mengenali Gejala Virus Corona pada Anak
Keputusan pemerintah Indonesia membuka kembali sekolah di zona kuning mendapat sorotan berbagai pihak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan ini berisiko memperparah penularan COVID-19 karena anak tetap bisa terinfeksi dan menyebarkan virus Corona.
"Keputusan membolehkan anak di zona kuning kembali sekolah berisiko memperparah penularan lokal, membebani fasilitas dan sumber daya tenaga medis, serta dalam jangka panjang malah memperlambat pemulihan ekonomi," tulis laporan WHO terkait kondisi wabah COVID-19 di Indonesia per tanggal 12 Agustus 2020.
"Data menunjukkan bahwa anak-anak usia lima sampai 14 tahun berkontribusi sebanyak 6,8 persen dari total konfirmasi kasus COVID-19 di Indonesia. Jauh di atas rata-rata dunia yang angkanya 2,5 persen berdasarkan pantauan WHO. Angka ini bisa meningkat bila sesi belajar tatap muka dilanjutkan," lanjut laporan.
Terkait hal tersebut, tidak ada salahnya orang tua mengetahui gejala infeksi Corona yang bisa muncul pada anak. Tujuannya untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya penularan di antara anak-anak.
Wakil Ketua Komite Penyakit Infeksi, Asosiasi Dokter Anak Amerika Serikat, dr Sean O'Leary mengatakan secara umum gejala infeksi COVID-19 pada anak dan orang dewasa sama.
"Bila Anda melihat daftar gejala potensial mulai dari, hidung tersumbat, batuk, demam, hingga kehilangan fungsi indra penciuman, ini semua bisa terjadi pada anak-anak dan orang dewasa," kata dr Sean seperti dikutip dari CNN, Minggu (16/8/2020).
Hanya saja pada anak-anak kadang juga dilaporkan muncul gejala seperti timbulnya ruam merah di kulit yang menyebar cepat. Orang tua juga disarankan mewaspadai bila anak mengeluh sulit bernapas, tampak lemas, dan sulit bangun dari tidur.
Perhatikan apakah gejala yang dialami anak tampak memburuk lebih cepat dari penyakit seperti flu atau pilek biasa.
"Segera hubungi dokter bila kamu tidak bisa menjaga anak terbangun, atau anak-anak terus tidur dan kelelahan sepanjang waktu. Bila mereka kehilangan nafsu minum, makan, atau melakukan aktivitas sehari-hari," ungkap dokter anak, Daniel Cohen, yang sehari-hari praktik di New York.
https://indomovie28.net/sister-in-laws-seduction-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar