Sistem operasi milik Microsoft Windows 7 tampaknya masih berjalan setidaknya pada 100 juta perangkat, meski Microsoft telah mengakhiri dukungan untuk OS ini setahun lalu.
ZDNet telah menganalisis proporsi PC yang masih menjalankan Windows 7 di berbagai laporan analitik. Meski setiap sumber data menepatkan Windows 7 pada persentase pangsa pasar yang berbeda, tapi sebagian besar setuju bahwa OS ini masih menguasai sekitar 20% PC.
Microsoft mengatakan selama bertahun-tahun ada 1,5 miliar pengguna Windows di berbagai versi di seluruh dunia. Sehingga sulit untuk mendapatkan jumlah pasti pengguna Windows 7 karena berbagai metode yang digunakan oleh perusahaan analitik, tetapi jumlah setidaknya ada 100 juta.
Jika menurunkan perkiraan Microsoft dari 1,5 miliar pengguna Windows menjadi hanya 1 miliar (ada 1 miliar pengguna aktif Windows 10), maka Windows 7 masih ada di sejumlah besar PC. Pada kenyataannya ini masih dapat digunakan di lebih dari 200 juta perangkat di seluruh dunia.
Dilansir detiKINET dari The Verge, Jumat (8/1/2021) dukungan untuk Windows 7 berakhir pada Januari 2020, hampir 11 tahun setelah OS pertama kali diluncurkan. Saat itu sistem operasi Window 7 dengan cepat menjadi versi Windows yang sangat populer terutama untuk bisnis.
Mungkin butuh waktu lebih lama lagi bagi Window 7 untuk akhirnya menghilang, terutama setelah setahun ketika bayak orang telah beralih ke PC untuk bekerja jarak jauh dan sekolah di rumah.
Microsoft melaporkan peningkatan permintaan dan penggunaan PC karena pandemi. Kemungkinan sebagian dari penggunaan PC tersebut juga berasal dari rumah tangga yang membersihkan PC dan laptop lama yang tidak sering mereka gunakan, dan beberapa dari perangkat ini mungkin masih menjalankan Windows 7.
Jelas bahwa pandemi juga memengaruhi pasar PC selama setahun terakhir. Tetapi beberapa analis melihat hampir 300 juta PC dikirim pada tahun 2020 saja.
https://nonton08.com/movies/happy-end-7/
TikTok Ikut Blokir Video Donald Trump yang Picu Kerusuhan
TikTok akan menghapus seluruh video terkait pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memicu kerusuhan massa di Gedung Capitol. Pidato tersebut dianggap menyalahi aturan di platform TikTok mengenai penyebaran informasi keliru.
Sebaliknya, TikTok memperbolehkan pengguna mengunggah video yang berisi sangkalan terhadap pernyataan Trump. Di samping itu, TikTok juga mengizinkan video mengenai kecaman terhadap aksi brutal di Gedung Capitol, terutama yang diunggah akun media massa kredibel.
Dalam pernyataan resminya, TikTok menegaskan tidak akan berkompromi kepada siapa saja yang menyerukan kebencian dan kekerasan, termasuk juga presiden Donald Trump. Bahkan, TikTok tak akan segan menghapus akun dan video yang menyalahi aturan.
"Sikap kebencian dan kekerasan tidak mendapatkan tempat di TikTok," bunyi keterangan resmi TikTok dikutip dari The Verge, Jumat (8/1/2020).
"Konten atau akun yang dianggap menghasut, membenarkan, atau mempromosikan kekerasan berarti menyalahi pedoman komunitas kami dan akan dihapus," lanjut keterangan tersebut.
TikTok juga memblokir segala hashtag yang berkaitan dengan serbuan massa ke Capitol, seperti #stormthecapitol dan #patriotparty. Hal tersebut serupa dengan yang dilakukan TikTok terhadap hashtag terkait konspirasi pada masa pemilihan Presiden AS November lalu.
Sebelumnya, platform media sosial lain seperti Facebook dan Twitter telah mengambil tindakan tegas untuk merespons kericuhan di Capitol yang dianggap mendegradasi demokrasi di AS.
CEO Facebook Mark Zuckerberg menyatakan kemurkaannya pada tindakan Trump dan menyatakan bisa saja akun Facebook dan Instagram Presiden AS ke-45 itu diblokir tanpa batas waktu. Sementara itu, Twitter mengunci akun Trump selama 12 jam. Kini, TikTok mengikuti tindakan mereka itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar