Layanan Google Maps menampilkan titik jatuh pesawat Sriwijaya Air SJ182. Titik tersebut bisa dilihat ketika membuka Google Maps di aplikasi smartphone ataupun desktop.
Ketika mengarahkan ke bagian utara Tangerang, akan terlihat titik merah yang bertuliskan Sriwijaya Air Insident. Begitu titik merah tersebut ditekan, Google menampilkan sejumlah informasi.
Ada dua nomor telepon untuk menghubungi Sriwijaya Air. Selain itu ada tombol untuk mendapatkan update terkini terkait kecelakaan pesawat Sriwijaya Air. Saat ditekan, kita akan diantar ke laman hasil pencarian terkait insiden tersebut.
Tentang titik merah di peta sendiri, ini adalah SOS Alert. Bukan pertama kalinya Google menampilkan SOS Alert di layanan peta digitalnya.
Raksasa pencarian internet ini kerap menampilkan SOS Alert di Google Maps setiap kali ada bencana atau kecelakaan terjadi, salah satu contohnya saat terjadi banjir di Jakarta awal tahun lalu.
Google akan mengumpulkan informasi berbagai berbagai sumber, mulai dari situs, media sosial, dan lainnya. Fitur ini turut menampilkan perkembangan terkini dari bencana yang terjadi, nomor telpon darurat dan terkadang informasi mengenai bantuan donasi.
Diharapkan informasi yang diberikan lewat SOS Alert ini dapat membantu pengguna dalam menghadapi bencana yang sedang terjadi.
"Meskipun kami tidak dapat menjamin bahwa Anda akan melihat SOS Alert untuk setiap krisis besar, kami ingin membuatnya tersedia secara lebih luas dari waktu ke waktu. SOS Alert membuat informasi darurat lebih mudah diakses selama krisis," tulis Google dalam laman resminya.
https://kamumovie28.com/movies/a-streetcar-named-desire/
Ternyata Ratusan Karyawan Twitter Desak Akun Trump Diblokir
Ratusan karyawan Twitter rupanya jengah dengan beragam cuitan kontroversial Donald Trump di layanan mereka, hingga lebih dari 300 pegawai menandatangani memo internal agar akun itu diblokir. Beberapa waktu kemudian, Twitter benar-benar mencekal akun Trump secara permanen.
Seperti dikutip detikINET dari The Verge, memo itu menyatakan bahwa kayawan Twitter prihatin dengan terjadinya kerusuhan berdarah di gedung Capitol yang sampai mengakibatkan korban jiwa. Presiden Donald Trump dianggap berkontribusi dengan cuitannya yang cenderung memprovokasi sehingga akunnya sebaiknya ditutup secara permanen.
"Aksi tersebut membahayakan Amerika Serikat, perusahaan dan juga karyawan kita," tulis mereka. Twitter juga sebaiknya mengevaluasi kebijakan perusahaan karena mungkin turut berperan pada terjadinya kerusuhan.
"Kita harus belajar dari kesalahan kita ini dalam rangka menghindari kerusakan di masa depan," tambah para karyawan Twitter tersebut.
Beberapa saat kemudian, petinggi Twitter memutuskan untuk memblokir akun Donald Trump selamanya. CEO Twitter, Jack Dorsey, memenuhi janjinya bahwa jika Donald Trump kembali melakukan pelanggaran, maka pihaknya tidak akan segan-segan untuk bertindak tegas walau ia berstatus presiden Amerika Serikat.
Mengenai kerusuhan yang terjadi di gedung Capitol, Dorsey menganggap adalah tanggung jawab para pemimpin negara untuk mencegah atau memperbaikinya. Sedangkan tugas Twitter hanya memastikan komunikasi yang dilakukan melalui layanannya berjalan dengan sepantasnya.
"Kita bukan pemerintah. Pejabat terplih seharusnya bekerja untuk memperbaiki hal ini dan menyatukan negara kita. Peran kita adalah melakukan segala yang kita bisa untuk mempromosikan diskursus yang sehat, mengetahui bahwa mungkin hal itu takkan selalu diterima dalam jangka pendek, tapi jangka panjang," cetus Dorsey.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar