Produsen chip yang berbasis di Taiwan, Mediatek, telah menyiapkan sebuah chipset dengan teknologi fabrikasi 6nm untuk dipasangkan di smartphone kelas flagship yang akan menyaingi Snapdragon 865+ dari Qualcomm. Chipset dari seri Dimensity tersebut akan segera diperkenalkan ke publik.
Melalui akun official di platform Weibo, Mediatek mengumumkan bakal memperkenalkan produk dari seri Dimensity itu pada tanggal 20 Januari 2021. Mengutip Gizchina, dalam unggahannya, Mediatek menyebut chipset terbaru itu membawa teknologi superior yang akan memberikan pengalaman lebih baik bagi pengguna.
Mediatek belum mengeluarkan keterangan resmi prosesor seri apa yang bakal dihadirkan. Namun, menurut rumor yang menyeruak chipset terbaru itu ialah MT689x. Salah satu seri yang diyakini bakal dirilis lebih dulu, yakni MT6893 berteknologi proses 6nm, menggunakan core ARM Cortex A78 dengan frekuensi tertinggi 3.0 GHz.
Seperti dikutip detikINET dari GizChina, Selasa (12/1/2021), leaker atau pembocor soal teknologi yang populer China, Digital Chat Station mengabarkan chipset terbaru Mediatek MT689x ini akan diperkuat dengan pengolah grafis Mali-G77. Mereka menyebut performa yang dimiliki bakal setimpal dengan chipset besutan Samsung, Exynos 1080.
Sedangkan menurut kabar lainnya, chipset baru Mediatek memiliki skor sekitar 600 dari hasil pengujian menggunakan aplikasi AnTuTu. Dengan demikian, skor tersebut dapat disejajarkan dengan raihan chipset lansiran Qualcomm, Snapdragon 865+.
Selain memiliki performa yang dilaporkan unggul itu, chipset flagship terbaru dari Mediatek disebut-sebut berharga lebih terjangkau ketimbang Exynos maupun Snapdragon di kelas yang sama karena memang demikian strategi bisnis mereka. Smartphone yang disusupi chipset Mediatek 6nm kemungkinan dapat dipasarkan seharga USD 300 atau setara Rp 4,2 jutaan.
https://trimay98.com/movies/london-love-story-2/
Kenapa Data Black Box Pesawat Tidak Disimpan di Cloud?
Black box menjadi benda paling dicari saat terjadi kecelakaan pesawat. Banyak orang bertanya kenapa data black box pesawat tidak disimpan di cloud seperti yang sering dilakukan dengan file lainnya.
Ini bukan argumen baru. Pertanyaan serupa kerap muncul setiap kali terjadi kecelakaan pesawat, terutama di masa sekarang, di mana perkembangan teknologi memungkinkan sejumlah maskapai penerbangan menyediakan layanan internet di pesawat.
Banyak orang berasumsi, jika informasi di dalam black box di-upload secara real time ke cloud, akan mempermudah proses investigasi penyebab kecelakaan, terutama saat black box tidak bisa ditemukan. Apa benar demikian?
Saat ini memang sudah ada sejumlah perusahaan yang mencoba menawarkan teknologi penyimpanan data penerbangan secara real time ke cloud. Namun nyatanya tidak semudah itu menerapkan penyimpanan cloud untuk data black box berikut ini sejumlah tantangannya.
Keamanan data
Dikutip dari Science How Stuff Works, faktor yang paling disoroti terkait penyimpan data black box di cloud adalah keamanan saat pengaplikasian streaming data penerbangan. Dari tingkat keandalan enkripsi sistem streaming, muncul juga pertanyaan tentang siapa yang akan memelihara data yang di-streaming, dan di mana data itu akan disimpan.
Pencurian atau pengubahan informasi rentan terjadi saat data dikirim atau saat data sudah tersimpan di server. Dengan teknologi cloud saat ini yang memanfaatkan lebih dari satu jaringan server, risiko ini semakin tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar