Menyusul wilayah lainnya di Amerika Serikat, New York melaporkan kasus pertama varian baru Corona dari Inggris. Namun, pasien tersebut diketahui tak memiliki riwayat perjalanan ke manapun baru-baru ini.
Dikutip dari Fox News, hal ini dikonfirmasi Gubernur New York Andrew Cuomo. Varian baru Corona B117 ini merupakan seorang pria di daerah Saratoga, berusia 60 tahun.
Berdasarkan hasil genome sequencing Lab Wadsworth, pria ini memiliki varian baru Corona yang berpotensi memicu penyebaran meluas di masyarakat.
"Pria itu baru-baru ini tidak bepergian," kata Cuomo yang juga menjelaskan pria tersebut mengalami gejala COVID-19.
Namun, belum dijelaskan lebih lanjut bagaimana varian baru Corona tersebut bisa menginfeksi pria yang tak memiliki riwayat perjalanan.
Dugaan sementara menunjukkan jika penyebaran COVID-19 di komunitas sedang terjadi.
Sementara itu, wilayah pertama di Amerika Serikat yang mencatat varian baru Corona terjadi di Colorado, akhir bulan lalu. Kala itu, para peneliti di lab setempat mendeteksi kasus pada seorang anggota Garda Nasional yang dikerahkan untuk membantu panti jompo di Simla pada saat wabah Corona meluas.
Selain Amerika Serikat, banyak negara yang menyusul laporan varian baru Corona Inggris. Terbaru, varian Corona ini juga dilaporkan di Brasil, ada 2 kasus pertama yang dikonfirmasi.
Sementara di Asia, varian baru Corona pertama kali dilaporkan di Singapura, berasal dari seorang pelajar berusia 17 tahun yang baru saja pulang dari Inggris. Menyusul kasus di India, dan Vietnam yang juga melaporkan COVID-19 varian serupa.
Otoritas kesehatan Inggris sebelumnya menyebut penularan COVID-19 dari varian ini lebih cepat, hingga 70 persen. Namun, tidak ada bukti varian baru Corona membuat infeksi lebih parah atau bergejala berat.
https://tendabiru21.net/movies/young-gods/
Negara-negara yang Kembali Lockdown Ketat Akibat Lonjakan COVID-19
Di berbagai negara, pandemi Corona masih belum teratasi. Bahkan, kini muncul beberapa varian baru Corona yang menambah kekhawatiran karena disebut-sebut lebih cepat menular. Varian baru ini antara lain diidentifikasi di Inggris dan Afrika Selatan.
Bertambahnya kasus infeksi COVID-19 setiap hari membuat beberapa negara kembali memberlakukan kebijakan lockdown. Ini dilakukan untuk menekan jumlah kasus yang semakin bertambah dan membebani fasilitas kesehatan.
Berikut beberapa negara yang memberlakukan lockdown lagi yang telah dirangkum detikcom dari berbagai sumber.
1. Inggris
Setelah meluncurkan vaksin virus Corona Oxford-AstraZeneca, Inggris akan segera menerapkan kebijakan lockdown lagi. Keputusan ini diumumkan oleh Perdana Menteri Boris Johnson pada Senin (4/1/2021) waktu setempat.
Berdasarkan keputusan yang diumumkan tersebut, seluruh wilayah Inggris akan ditutup atau lockdown mulai Rabu (6/1/2021). Temuan strain baru Corona menyebabkan COVID-19 lebih cepat menyebar ke seluruh Inggris.
"Kebanyakan wilayah sudah menerapkan langkah ekstrem, sudah jelas bahwa kita butuh melakukan yang lebih, secara bersama-sama, agar varian baru ini bisa terkontrol saat vaksinasi kita bergulir," kata Boris Johnson yang dikutip dari AFP, Selasa (5/1/2021).
2. Lebanon
Selain Inggris, Lebanon juga mengumumkan kebijakan lockdown penuh selama tiga minggu, termasuk jam malam, untuk mencegah peningkatan kasus COVID-19 di negara tersebut. Hal ini dilakukan karena rumah sakit di negara tersebut sudah menghadapi krisis keuangan.
Menteri Kesehatan yang tengah menjabat saat ini, Hamad Hasan mengatakan lockdown akan dimulai pada Kamis (7/1/2021) hingga 1 Februari 2021.
Lebanon mengumumkan penguncian penuh selama tiga minggu, untuk membendung peningkatan infeksi COVID-19 yang mengancam rumah sakit di negara yang sudah menghadapi krisis keuangan. Lockdown ini juga mencankup jam malam dari pukul 6 sore sampai 5 pagi.
"Jelas bahwa tantangan pandemi sudah mencapai tahap yang sangat mengancam nyawa warga Lebanon, karena rumah sakit tidak mampu menyediakan tempat tidur," jelas Hasan pasca pertemuan komite kementerian tentang COVID-19, dikutip dari Reuters, Selasa (5/1/2021).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar