CEO Parler John Matze curhat kalau semua vendor meninggalkan perusahaan setelah Google, Apple dan Amazon mendepak mereka dari platform mereka.
"Setiap vendor, mulai dari layanan pesan teks, penyedia email bahkan pengacara kami, semua meninggalkan kami pada hari yang sama," ujar Matze dalam sebuah wawancara dengan Fox News.
Google telah menghapus Parler dari Play Store pada Jumat (8/1/2021). Langkah serupa dilakukan Apple dengan menghapus Parler dari App Store pada Sabtu (9/1/2021).
Berlanjut Amazon yang mengeluarkan Parler dari layanan hosting web-nya pada Minggu malam (10/1/2020). Alasan ketiga raksasa teknologi tersebut sama, mereka tidak mentolerir pembiaran atas ancaman kekerasan yang diposting di Parler.
Salah satu buktinya screenshot yang dibagikan oleh kelompok aktivis Sleeping Giants menunjukkan pengguna menyerukan kekerasan terhadap Wakil Presiden AS Mike Pence dan mengancam aktivitas di Capitol pada 19 Januari.
Setelah didepak Google, Apple dan Amazon, Matze sempat meposting kalau layanan Parler tidak akan tersedia di internet hingga sepekan.
Tetapi dalam wawancara dengan Fox News, Matze mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan menemukan vendor baru untuk diajak bekerja sama.
"Kami akan mencoba sebaik mungkin untuk kembali online secepat mungkin, tetapi kami mengalami banyak masalah karena setiap vendor yang kami ajak bicara mengatakan mereka tidak akan bekerja dengan kami. Karena jika Apple tidak menyetujui dan Google tidak menyetujui, maka mereka tidak akan," kata Matze.
Seperti diketahui Parler menjadi populer di kalangan pendukung Presiden Trump lantaran platform seperti Twitter dan Facebook telah memperketat kebijakan moderasi mereka.
https://nonton08.com/movies/kamen-rider-zi-o-the-movie-over-quartzer/
Ngeri, Telegram Pajang Meme Peti Mati WhatsApp
- Telegram dan pendirinya, Pavel Durov, agaknya memanfaatkan betul momentum WhatsApp sedang bikin cemas lantaran meminta pengguna setuju berbagi data dengan Facebook. Bahkan di Twitter, Telegram memajang meme peti mati WhatsApp.
Tampak dalam meme itu para pembawa peti mati di Ghana yang suka joget. Nah, peti matinya bertuliskan kebijakan privasi baru WhatsApp di mana pengguna harus setuju kalau tetap ingin melanjutkan pemakaian WhatsApp.
Netizen pun ramai menanggapinya dan Telegram rajin membalasnya. Misalnya ada yang bertanya bagaimana jika sudah terlanjur setuju dengan kebijakan baru WhatsApp?
"Uninstal saja dan move on. Hal ini seperti mantan Anda, jika tidak cukup baik buat Anda, maka Anda berhak dengan yang lebih baik," cetus Telegram.
Tentulah meme itu sebagai sindiran sekaligus ancaman Telegram pada WhatsApp yang tengah jadi sorotan. Adapun jenis informasi yang akan dibagikan WhatsApp ke Facebook antara lain nomor telepon, nama profil, foto profil, data transaksi, informasi terkait layanan, informasi perangkat mobile, alamat IP dan informasi lainnya.
Pendiri Telegram, Pavel Durov, pun angkat bicara. "Jutaan orang marah dengan kebijakan baru WhatsApp, yang sekarang mengharuskan pengguna memasukkan semua data pribadi mereka ke mesin iklan Facebook," sebutnya.
"Tidak mengherankan jika banyak pengguna beralih dari WhatsApp ke Telegram, yang sudah berlangsung beberapa tahun, semakin cepat," klaim Pavel.
Adapun WhatsApp telah memberi penjelasan terkait kebijakan privasi barunya tersebut. Dalam keterangan yang diterima detikINET, pihak WhatsApp mengatakan kebijakan berbagi data dengan Facebook sebenarnya telah berlaku sejak tahun 2016.
"Sejak 2016, WhatsApp telah membagikan sejumlah data terbatas dengan Facebook di ranah backend, khususnya untuk kebutuhan infrastruktur. Tidak ada perubahan baru di update kebijakan ini," ucap WhatsApp.
https://nonton08.com/movies/kamen-rider-heisei-generations-forever/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar