Vaksinator yang menyuntikkan vaksin COVID-19 untuk Presiden tampak gemetar. Perawat yang membantunya ternyata juga tidak kalah grogi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkap momen tersebut di media sosial. Menurutnya, Presiden bercerita bahwa kapas alkohol sempat jatuh karena perawatnya gemetar.
"Beliau juga cerita yang grogi justru perawatnya yang agak gemetar, sehingga kapas alkohol sampai jatuh dua kali," tulis Sri Mulyani.
Dalam tayangan live, Prof Dr dr Abdul Muthalib, SpPD-KHOM yang menjadi vaksinator untuk Jokowi juga tampak gemetar saat hendak menyuntikkan vaksin. Wakil ketua dokter kepresidenan yang juga guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini rupanya grogi.
"Ya menyuntik orang pertama di Indonesia tentu ada rasa juga," kata Prof Muthalib.
Namun Prof Muthalib menyebut, gemetar yang dialaminya tidak berlangsung lama. Proses selanjutnya berjalan lancar, bahkan tanpa perdarahan ketika jarum disuntikkan.
"Tidak terasa sama sekali," kata Jokowi mengomentari suntikan Prof Muthalib.
https://nonton08.com/movies/faith-love-chocolate/
Ini Alasan Efikasi Vaksin Sinovac di Brasil Turun Jadi 50,4 Persen
Brasil memperbarui persentase kemanjuran atau efikasi vaksin Corona Sinovac menjadi 50,4 persen dari sebelumnya 78 persen. Temuan ini menjadikan efikasi vaksin Sinovac lebih rendah dari Turki 91 persen dan Indonesia 65,3 persen.
Institut Butantan dan Pemerintah San Paulo mengatakan perubahan nilai efikasi ini terjadi karena ditambahkannya data terbaru dari relawan yang terinfeksi COVID-19 bergejala sangat ringan.
Dikutip dari Reuters, hasil awal yakni 78 persen didapatkan dari efektivitas vaksin pada mereka yang terinfeksi COVID-19 dengan gejala ringan-sedang, sampai yang membutuhkan perawatan.
Sementara itu nilai 50,4 persen didapatkan setelah data relawan yang terinfeksi COVID-19 tanpa gejala sampai gejala yang sangat ringan dimasukkan dalam perhitungan. Angka ini menunjukkan efikasi vaksin secara umum.
"Nilai efikasi ini lebih tinggi dari batas 50 persen yang disyaratkan oleh WHO (Organisasi Kesehatan Dunia)," tulis pernyataan Butantan.
Uji klinis vaksin COVID-19 di Brasil diikuti oleh 13 ribu relawan yang merupakan kelompok tenaga kesehatan di delapan negara bagian.
Perbedaan efikasi di berbagai negara
Pakar Farmakologi dan Farmasi Klinis, Prof Dr Zullies Ikawati, Apt, mengatakan ada beberapa hal yang mendasari tinggi atau rendahnya efikasi. Salah satunya terkait subyek uji klinis vaksin Corona Sinovac.
Efikasi vaksin juga bisa dipengaruhi beragam faktor saat uji klinik, termasuk jumlah subyek dan lama pengamatan. Jika uji klinik dilakukan lebih lama atau diperpanjang, efikasi yang didapat juga bisa berbeda.
"Efikasi ini akan dipengaruhi dari karakteristik subyek ujinya. Jika subyek ujinya adalah kelompok risiko tinggi, maka kemungkinan kelompok placebo akan lebih banyak yang terpapar, sehingga perhitungan efikasinya menjadi meningkat," jelas Prof Zullies melalui rilis yang diterima detikcom Selasa (12/11/2020).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar