Harapan vaksin Corona bisa disuntikkan mulai akhir Desember ini masih ada. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.
"Kalau bisa paling-paling ya mungkin berapa banyak kita akan suntik akhir tahun. Tapi kalaupun itu masih menunggu, ya tapi mudah-mudahan bisa," kata dia dalam webinar yang diselenggarakan Shopee, Sabtu (12/12/2020).
Saat ini 1,2 juta dosis vaksin Corona sudah tiba di Indonesia yang diimpor dari Sinovac, China. Sekarang tinggal menunggu emergency use authorization (EUA) sebelum akhirnya vaksin mulai disuntikkan.
"Sekarang sudah datang vaksin ini tinggal menunggu emergency use authorization," sebut Mantan Menkopolhukam itu.
Terlepas dari bisa atau tidaknya vaksinasi dilakukan akhir tahun ini, Luhut memastikan pada kuartal I-2021 akan dilakukan penyuntikan sampai puluhan juta dosis vaksin Corona.
Vaksinasi yang dilakukan Indonesia pun disebut Luhut meningkatkan citra positif Indonesia di mata investor.
"Semua melihat Indonesia itu tempat yang sangat bagus untuk mereka investasi karena mereka melihat program penanganan COVID sampai kepada vaksin, dengan tadi stimulus yang disiapkan dan semua itu yang ditangani Pak Erick (Ketua Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional) tadi dengan tim, saya kira itu memberikan harapan yang sangat baik," tambahnya.
https://kamumovie28.com/movies/scarlet-innocence/
Lakshmi Mittal: 'Iron Man' dari India yang Rintis Usaha di RI
Salah satu orang terkaya di dunia berasal dari India, Lakshmi Narayan Mittal mencuri perhatian. Mittal merupakan pria kelahiran Churu Rajasthan, 70 tahun silam.
Mengutip Forbes, Mittal kini memiliki kekayaan bersih sebesar US$ 10,1 miliar. Kekayaannya ini dia hasilkan dari perusahaan baja miliknya yakni PT Ispat Indo.
Perusahaan Mittal memproduksi berbagai jenis billet, batang kawat, serta batangan karbon rendah dan tinggi.
'Iron Man' dari India ini merupakan lulusan bisnis dan akuntansi dari St Xavier College di Calcutta. Ia mulai mendirikan perusahaannya di Indonesia pada 1976, tepatnya di Surabaya.
Ia membuka usaha ini untuk menjalankan tugasnya sebagai divisi internasional di perusahaan baja keluarganya.
Dari sini, Mittal mengubah perusahaan keluarganya menjadi raksasa global yang menjangkau 14 negara dan berhasil mempekerjakan 150.000 orang. Dengan kerja kerasnya juga, dirinya berhasil mempelopori pengembangan pabrik mini terintegrasi dan penggunaan direct reduced iron (DRI) sebagai pengganti besi tua yang menjadi bahan dasar pembuatan baja, serta mampu berkonsolidasi dengan industri baja global.
Terbukti pada 2004, Mittal Steel menjadi pembuat baja terbesar di dunia dengan pengiriman produksi sebanyak 42,1 juta ton baja dan mampu membukukan keuntungan lebih dari US$ 22 miliar. Mittal kini tercatat sebagai CEO Arcelor Mittal dan menjabat sebagai direktur non eksekutif di beberapa perusahaan seperti Goldman Sachs, EADS dan ICICI Bank.
Dari bisnis inti manufaktur baja, grupnya sekarang telah melakukan diversifikasi ke perusahaan perkapalan, batu bara, serta pembangkit listrik dan minyak. Ciri khasnya dari bisnisnya adalah membeli baja usang dari pemerintah dengan harga sekali pakai dan kemudian diubah menjadi emas. Antara 2001 dan 2004 pengambilalihan pabrik di Rumania, diikuti oleh Republik Ceko dan Polandia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar