Minggu, 13 Desember 2020

Para Istri Sering Tak Bergairah Kala Bercinta? Intip 4 Penyebabnya

 Banyak wanita yang tak jarang mengalami penurunan hormon seks atau yang dikenal dengan Gangguan Hasrat Seksual Hipoaktif (HSDD). Masalah ini sering disebabkan oleh mental dan fisik yang berjalan tidak normal, seperti kelelahan dan stres yang berlebihan.

"Seksualitas wanita cenderung memiliki banyak permasalahan dan cukup rumit, serta tidak cukup disembuhkan dengan mengonsumsi obat-obatan saja," ucap Sheryl Kingsberg, PhD, seorang psikolog seks.


Biasanya, hasrat seksual muncul atas keinginan pribadi untuk melakukannya. Misalkan, Anda sedang marah dengan pasangan dan ia mengajak Anda untuk berhubungan seks. Bisa jadi Anda terangsang secara seksual, namun Anda memilih untuk tidak melakukannya karena emosi Anda sedang tidak stabil.


Dikutip dari WebMD, berikut empat penyebab hilangnya hasrat seksual pada wanita:


1. Pengaruh lingkungan luar

Masalah lingkungan sering kali memengaruhi pikiran manusia, baik pria maupun wanita. Stres akibat pekerjaan, ucapan tidak enak dari teman, dan hal lainnya dapat menurunkan hasrat seksual wanita, sehingga mereka merasa lelah dan malas untuk bercinta.


2. Testosteron rendah

Testosteron mempengaruhi dorongan seksual baik pada pria maupun wanita. Kadar testosteron memuncak pada wanita pertengahan 20-an dan kemudian terus menurun sampai menopause.


3. Menurunnya hormon androgen

Hormon androgen dalam darah terus turun pada wanita seiring bertambahnya usia. Jenis hormon ini dapat memengaruhi gairah seksual dan kesuburan pada wanita, serta menjaga kesehatan organ reproduksi.


4. Terkena penyakit

Masalah kesehatan menjadi salah satu faktor bagi pria maupun wanita bergairah untuk berhubungan seks. Jika salah satu pasangan terutama wanita mengalami penyakit, seperti depresi, fibroid, dan gangguan tiroid, mereka cenderung kehilangan nafsu untuk bercinta. Segera konsultasikan dengan dokter agar mendapat pengobatan.


Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengembalikan gairah seks pada wanita:


1. Terapi seks

"Terapi seks sangat efektif untuk individu dan pasangan, dan itu selalu saya sarankan kepada mereka yang mengalami masalah seksual," ungkap Jan Shifren, MD, asisten profesor di Harvard Medical School.


Disfungsi seksual biasanya mempengaruhi kedua belah pihak dalam suatu hubungan dan harus didiskusikan bersama atau secara individu dengan ahlinya.


2. Mengganti obat-obatan atau menurunkan dosisnya

Dosis pemakaian obat-obatan bisa dikurangi jika munculnya masalah seksual pada pasangan. Apabila tidak ada perubahan meskipun dosis sudah dikurangi, hentikan pemakaian obat-obatan tersebut.


3. Segera berobat jika terkena penyakit

Beberapa penyakit yang mungkinmemengaruhi hasrat seksual harus segera diobati. Fibroid yang sudah sangat mengganggu harus dilakukan operasi agar tidak semakin parah dan kemungkinan menjalar ke seluruh tubuh.

https://tendabiru21.net/movies/young-sister-in-law-3/


Deretan Gejala COVID-19 yang Tak Terbayangkan, Anosmia hingga Delirium


 Gejala COVID-19 yang dialami setiap pasien dapat berbeda-beda, mulai dari gejala umum sampai gejala yang jarang ditemukan. Selain batuk, pilek, dan kelelahan yang sudah menjadi gejala umum, muncul dua gejala COVID-19 lain, yakni anosmia dan delirium.

Anosmia atau hilangnya penciuman menjadi salah satu gejala COVID-19 di mana pasien sulit mengenali bau dan berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Gejala COVID-19 ini juga membuat pasien sulit merasakan makanan normal sehingga mereka sering frustasi.


Dikutip dari Times of India, gejala COVID-19 ini bisa melindungi orang dari tanda-tanda mematikan lainnya akibat COVID-19, yaitu serangan pernapasan dan peradangan atau inflamasi. Beberapa ahli percaya bahwa anosmia menjadi salah satu gejala COVID-19 yang tidak berbahaya dan merupakan pertanda baik dari infeksi Corona.


Banyak dokter mengatakan bahwa pasien yang mengalami kehilangan penciuman hanya menderita batuk ringan akibat virus Corona. Selain itu, dokter di India mengatakan, pasien yang terkena Corona sedang hingga parah dan membutuhkan perawatan ICU jarang sekali mengalami gejala COVID-19 berupa anosmia.


Akibat anosmia, seseorang mungkin tidak bisa mencium bau rempah-rempah, manisan dan makanan asam yang biasanya memiliki bau menyengat dibandingkan makanan lain. Bahkan gejala COVID-19 ini bisa menurunkan nafsu makan karena lidahnya tak bisa merasakan apapun.


Selain anosmia, ada lagi gejala COVID-19 lainnya, yakni delirium. Delirium adalah suatu kondisi di mana seseorang mengalami kebingungan berat serta berkurangnya kesadaran.


"Delirium adalah keadaan kebingungan di mana seseorang merasa tidak terhubung dengan kenyataan, seolah sedang bermimpi," kata Javier Correa, peneliti dari University of Catalonia (UOC).


Para dokter pun mengingatkan bahwa gejala COVID-19 ini bisa memicu gangguan otak bahkan mengganggu kondisi mental pasien. Biasanya, delirium dialami oleh kelompok lanjut usia (lansia).

https://tendabiru21.net/movies/young-sister-in-law-3-2019/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar