Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja neraca dagang Indonesia masih didominasi oleh kontribusi China pada November 2020. Ekspor dan impor nasional tercacat paling besar ke dan dari negeri Tirai Bambu.
Untuk kinerja ekspor, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan terjadi peningkatan nilai ekspor Indonesia sebesar US$ 461,8 juta ke China selama bulan November 2020. Setelah China ada negara Malaysia, Pakistan, Jepang, dan India.
"Kalau kita lihat berdasarkan negara tujuan, peningkatan ekspor selama November terjadi untuk tujuan Tiongkok di mana totalnya bertambah US$ 461,8 juta, dan barang utama besi dan baja, bahan bakar mineral," kata Suhariyanto dalam video conference, Selasa (15/13/2020).
Untuk nilai ekspor ke Malaysia, Suhariyanto bertambah sebesar US$ 158,1 juta, ke Pakistan bertambah US$ 128,9 juta, ke Jepang bertambah US$ 124,2 juta, dan India bertambah US$ 87,9 juta.
"Sebaliknya yang mengalami penurunan ke Swiss sebesar US$ 136,4 juta, lalu ke Spanyol, Vietnam, Filipina dan Myanmar juga turun," jelasnya.
Dengan peningkatan dan penurunan kinerja ekspor tersebut, maka pangsa ekspor non migas nasional masih tidak berubah, dikatakan Suhariyanto posisi pertama masih diduduki oleh China dengan share 22,87% atau setara US$ 3,32 miliar. Selanjutnya disusul oleh Amerika Serikat (AS) share-nya sebesar 11,06%, lalu Jepang sebesar 8,18%, dan India sebesar 6,64%.
Sementara untuk negara ASEAN share-nya sebesar 20,86% atau setara US$ 3,03 miliar dan Uni Eropa share-nya sebesar 7,62% atau setara US$ 1,11 miliar.
Sedangkan untuk kinerja impor, BPS mencatat terjadi peningkatan nilai impor dari negeri Tirai Bambu sebesar US$ 1,09 miliar disusul oleh Jepang sebesar US$ 226 juta, Hong Kong sebesar US$ 124,6 juta, Kanada sebesar US$ 92,7 juta, dan Taiwan sebesar US$ 84,9 juta.
Sementara nilai impor Indonesia yang mengalami penurunan sangat dalam, dikatakan Suhariyanto adalah ke Ukraina yaitu sebesar US$ 76,9 juta, lalu Singapura sebesar US$ 65,7 juta, Malaysia sebesar US$ 49,4 juta, Hungaria sebesar US$ 49 juta, dan Uni Emirat Arab sebesar US$ 27,4 juta.
"Tetapi berdasarkan negara asal tidak berubah, impor utama kita masih dari Tiongkok sebesar US$ 3,89 miliar, artinya kontribusinya 33,61%, berikutnya dari Jepang, Amerika Serikat, Singapura, dan Korea Selatan," ungkapnya.
"Kalau dari ASEAN sebesar 16,48% atau US$ 1,91 miliar, dan Uni Eropa 7,67% atau US$ 0,89 miliar," tambahnya.
BPS mencatat neraca dagang Indonesia surplus US$ 2,61 miliar pada November 2020. Surplus dikarenakan nilai ekspor lebih besar daripada impor. Adapun nilai ekspor tercatat US$ 15,28 miliar dan nilai impor sebesar US$ 12,66 miliar.
https://cinemamovie28.com/movies/riki-rhino/
Masih Kurang 20%, LRT Jabodebek Baru Bisa Operasi 2022
PT Adhi Karya (Persero) Tbk melaporkan penyelesaian proyek LRT Jabodebek secara keseluruhan sudah mencapai 80%. Artinya, proyek ini menyisakan 20% pekerjaan yang belum selesai.
Berdasarkan bahan paparan publik perusahaan, Selasa (15/12/2020), progres terkini LRT Jabodebek untuk Lintasan 1 Cawang-Cibubur 92,4%, Lintasan 2 Cawang-Kuningan-Dukuh Atas 76,6%, dan Lintasan 3 Cawang-Bekasi Timur 88,7%.
Sementara itu, pembebasan lahan untuk pembangunan depo LRT Jabodebek sudah mencapai 100%, dan perkembangan konstruksinya sudah 31,4%. Sejauh ini pihaknya sudah menerima pembayaran untuk pekerjaan proyek LRT Jabodebek sebesar Rp 10,8 triliun.
Sementara itu, Adhi Karya selalu kontraktor proyek menargetkan LRT Jabodebek beroperasi Juli 2022.
"COD-nya (tanggal beroperasi secara komersial) di awal Juli 2022," kata Direktur Operasi II Adhi Karya, Pundjung Setya Brata melalui pesan singkat kepada detikcom, Jumat (23/10/2020).
Dia menjelaskan, untuk fisik dan system completion memang akan rampung pada Oktober 2021, dan fisik yang bersifat heavy maintenance selesai di Desember 2021.
Selain itu masih ada proses-proses yang harus dilalui sebelum LRT Jabodebek benar-benar beroperasi secara komersial alias mulai mengangkat penumpang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar