Rabu, 15 Juli 2020

Bayi Lahir Positif Corona Jadi Bukti Penularan Terjadi di Rahim

Seorang bayi yang terlahir dengan infeksi Corona jadi salah satu bukti bahwa penularan bisa terjadi selama kehamilan. Bayi yang lahir di Texas, Amerika Serikat, ini segera dilarikan di unit perawatan intensif setelah mengalami masalah pernapasan.
Sang ibu, sebelumnya didiagnosa mengidap COVID-19. Bayinya setelah lahir mengalami masalah pernapasan dan demam. Ketika para peneliti menganalisis plasenta, mereka menemukan jejak peradangan dan jejak virus Corona COVID-19.

"Studi kami adalah yang pertama kali mendokumentasikan penularan selama kehamilan berdasarkan bukti imunohistokimia dan ultrastruktural dari infeksi SARS-CoV-2 dalam sel janin plasenta," kata peneliti dr Amanda Evans dari Universitas Texas dari Pusat Medis Universitas Texas Barat Daya dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Pediatric Infectious Disease.

Peneliti juga menyebut kasus ini menjadi bukti bayi bisa tertular di dalam rahim. Pekan lalu, para ahli di Italia juga menemukan 'bukti kuat' penularan janin setelah virus ditemukan di dalam darah tali pusat dan plasenta.

Untuk kasus di Texas, bayi tersebut lahir prematur di usia 34 minggu. Karena adanya kecurigaan terpapar COVID-19, ia ditempatkan di unit perawatan intensif neonatal.

Tes lebih lanjut dari plasenta mengungkapkan adanya partikel Corona dan protein yang diyakini spesifik untuk COVID-19. Karena hasil ini, para peneliti menyimpulkan bahwa COVID-19 ditularkan kepada bayi dalam kandungan, bukan selama atau setelah kelahirannya.

Bayi itu diberi oksigen tambahan selama beberapa hari dan dinyaakan positif COVID selama dua minggu pertama kehidupannya. Tiga minggu setelah dia lahir, dia dan ibunya dipulangkan, dan keduanya dikatakan dalam kondisi baik.

Remaja 15 Tahun Meninggal karena Penyakit Pes di Mongolia

Remaja yang berusia 15 tahun di Mongolia dilaporkan meninggal karena penyakit pes di Mongolia. Kementerian Kesehatan pada Selasa (14/7/2020), mengatakan ini merupakan salah satu dari segelintir kasus yang belakangan muncul di Mongolia dan di China.
Remaja tersebut tinggal di provinsi terpencil di barat daya Gobi-Altai. Menurut otoritas kesehatan setempat, dia diduga terserang pes setelah berburu dan memakan marmut.

"Kami mengkarantina 15 orang pertama yang melakukan kontak dengan korban dan 15 orang itu mendapatkan perawatan antibiotik," kata Kepala Hubungan Masyarakat Kementerian Kesehatan Narangerel Dorj seperti dikutip dari laman Channel News Asia pada Rabu (15/7/2020).

Setelah ditemukan kasus kematian tersebut, lima kabupaten di provinsi ini juga dikarantina selama enam hari. Dua pasien pes lainnya terdapat di provinsi Khovd.

Seorang gembala di wilayah utara Mongolia Dalam juga sempat dikabarkan terjangkit pes. Hal tersebut mendorong pemerintah setempat untuk melarang perburuan dan makan hewan yang bisa membawa pes hingga akhir tahun.

Setidaknya satu orang meninggal akibat pes setiap tahun di Mongolia meskipun pemerintah terus melakukan kampanye melarang makan marmut atau mendekati hewan itu.

Tetapi sebagian besar warga di pedesaan tumbuh dengan belajar berburu dan memakan marmut tanah yang besar. Mereka percaya bahwa memakan jeroan binatang baik untuk kesehatan.

Pasangan etnis Kazakh meninggal akibat wabah tahun lalu setelah makan ginjal marmut mentah.

Pihak berwenang China telah menutup sejumlah tempat wisata di bagian utara negara dekat perbatasan Mongolia setelah menemukan sejumlah kasus pes di daerah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Kemunculan wabah penyakit pes ini turut memicu negara tetangga China seperti Rusia ikut waspada dan mengimbau warganya yang tinggal di dekat perbatasan untuk tidak berburu atau memakan daging marmut dan tikus.
https://nonton08.com/2-fast-2-furious/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar