Jumat, 14 Mei 2021

Heboh Perekaman Diam-diam Saat Mandi di Hotel Bobobox, Termasuk Voyeurisme?

 Viral di media sosial Twitter soal cerita seseorang yang direkam secara diam-diam di hotel Bobobox kawasan Jakarta Pusat pada Rabu (12/5/2021). Korban dari perekaman tersebut menjelaskan kronologi kejadian yang dialaminya.

Saat itu, dia sedang mandi di kamar mandi hotel bertipe shared bathroom alias kamar mandi dalam satu ruangan, tetapi memiliki banyak bilik. Saat mandi, ia menyadari tangan yang menyodorkan ponsel tengah merekam dirinya, dari satu lubang di sudut dinding.


Dalam beberapa kasus, orang yang suka mengintip erat dikaitkan dengan voyeurisme, apa itu?


Dikutip dari Healthline, voyeurisme adalah seseorang yang suka mengintip atau mengamati orang lain yang tengah membuka pakaian, telanjang, atau melakukan aktivitas seksual tanpa diketahui yang bersangkutan.


Orang yang suka mengintip ini disebut dengan voyeur atau si pengintip. Biasanya, si pengintip akan bersembunyi sampai orang yang mereka amati tidak mengetahuinya.


Si pengintip biasanya mengamati orang di tempat-tempat yang dianggap bisa menjaga privasi, seperti rumah, kamar mandi, atau area lainnya.


Namun, voyeurisme ini bisa berkembang menjadi gangguan paraphilic yang dikenal dengan gangguan voyeuristik. Gangguan paraphilic ini melibatkan fantasi atau dorongan seksual yang menyebabkan stres.

Bagaimana sebenarnya ciri-ciri pengidap voyeurisme?


Gangguan voyeurisme membutuhkan diagnosis dari pakar kesehatan mental. Mereka akan mencari hal-hal tertentu sebelum membuat diagnosis, seperti berikut.


- Seseorang umumnya memiliki keinginan yang berulang dan kuat untuk menonton orang termasuk mereka yang telanjang, melepas pakaian, atau terlibat dalam perilaku seksual


- Mereka mengalami keinginan ini selama lebih dari enam bulan dan merasa bahwa keinginan ini mengganggu aktivitas sosial.

https://nonton08.com/movies/lupin-the-third-green-vs-red/


Kalap Makan Sambal Goreng Ati, Olahraga Apa Ya Biar Badan Tidak Melar?


 Hari Lebaran sering kali dijadikan sebagai ajang 'balas dendam' untuk menyantap makanan setelah sebelumnya umat Muslim diwajibkan untuk berpuasa selama satu bulan penuh. Kalori pun menumpuk dari opor ayam, sambal goreng ati, dan segala macam santapan lezat.

Belum lagi, dengan adanya berbagai jenis kue kering dan manis yang mengandung tinggi gula. Akibatnya, berat badan yang sudah turun karena pola makan teratur selama bulan Ramadhan, justru berpotensi untuk naik lagi setelah hari Lebaran.


Di sisi lain, tidak sedikit pula orang yang mengabaikan rutinitas olahraga selama bulan Ramadhan lantaran tidak kuat berolahraga saat berpuasa. Oleh sebab itu, waktu usai hari Lebaran bisa menjadi waktu yang tepat bagi mereka yang ingin kembali rutin berolahraga serta menurunkan berat badan lantaran kalap makan saat lebaran.


"Olahraga habis lebaran ya dikembalikan seperti pada aktivitas normal seperti biasa. Kalau sekarang (saat Ramadhan) orang segan melakukan olahraga sebelum buka puasa misalnya karena takut lemes, takut gak optimal. Artinya, setelah lebaran, tidak berpuasa lagi, bisa melakukan olahraga kapan saja saat waktu luang," ujar dr BRM Ario Soeryo Kuncoro, SpJP(K) dari Heartology Cardiovascular Center dalam Zoom Media Gathering, Sabtu (8/5/2021).


Jenis olahraga yang bisa dilakukan pun bisa beragam, seperti dari jalan cepat, jogging, dan bersepeda. Menurut dr Ario, jenis olahraga apa pun bisa dilakukan untuk menurunkan berat badan asalkan dilakukan dengan konsisten.


"Jadi olahraganya bisa apa aja. Mungkin bisa dengan jalan cepat, atau jogging, atau naik sepeda, terus mungkin mulai gym lagi," imbuhnya.


"Untuk menurunkan berat badan rasanya apapun jenis olahraga yang kita kerjakan, apabila dilakukan secara rutin dengan frekuensi yang baik, dengan durasi yang cukup, kemudian makannya kita jaga, tentunya akan terjadi perubahan komposisi dari badan dan juga diharapkan perubahan berat badan dapat terjadi," jelas dr Ario.

https://nonton08.com/movies/the-mad-monk/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar