Instagram kembali mempersiapkan fitur baru guna memanjakan penggunanya. Selain fitur baru pada live video, akan ada private stories.
Berdasarkan bocoran dari InstaLeaks, media sosial berbagi foto dan video ini akan meluncurkan kemampuan picture-in-picture (PIP) pada live video. Kemampuan tersebut memungkinkan pengguna tetap bisa menonton live video di Instagram sembari melihat Feed secara bersamaan.
Selama ini live video ditampilkan dalam ukuran layar penuh. Begitu ingin mengakses Feed, pengguna harus menutup sesi tersebut.
Nah nantinya live video bisa ditampilkan dalam ukuran jendela kecil dan diletakkan di sudut layar. Sehingga tidak memugkinkan pengguna tetap menonton sesi live video sembari mengupdate Feed-nya.
Bocoran kedua adalah private stories. Belum ada informasi soal ini, tapi pengamat media sosial Alessandro Paluzzi di akun Twitternya menduga kalau fitur tersebut memungkinkan pengguna membagi stories mereka hanya ke follower atau mutual saja.
Saat ini Instagram menyediakan opsi Close Friends yang memungkinkan pengguna membagikan stories-nya ke teman-teman yang dianggapnya dekat. Sehingga stories tersebut tidak dapat diakses oleh orang lain meski mereka adalah follower.
Sejuah ini Facebook sebagai pemilik WhatsApp belum menanggapi kedua bocoran ini. Semoga saja kemunculan kedua fitur baru ini tidak begitu lama ya detikers.
https://tendabiru21.net/movies/tenet/
Virus Corona Purba Serbu Asia Timur 25 Ribu Tahun Lalu
Studi terbaru mengungkapkan, virus Corona purba pernah menyerang wilayah Asia Timur sekitar 25.000 tahun lalu dan selama ribuan tahun setelahnya.
Pandemi COVID-19 yang telah menewaskan lebih dari 3 juta jiwa, memperlihatkan betapa rentan kita terhadap virus baru. Tapi meski ancaman ini tampak baru, nyatanya manusia telah memerangi virus berbahaya ini sejak lama.
"Selalu ada virus yang menginfeksi populasi manusia. Virus benar-benar salah satu pendorong utama seleksi alam dalam genom manusia," kata penulis studi David Enard, asisten profesor ekologi dan evolusi di University of Arizona, dikutip dari Live Science, Kamis (29/4/2021).
Hal itu karena gen yang meningkatkan peluang orang untuk bertahan hidup dari patogen, lebih mungkin diwariskan ke generasi baru. Dengan menggunakan alat modern, para peneliti dapat mendeteksi sidik jari patogen purba ini dalam DNA manusia yang hidup saat ini.
"Informasi ini berguna dalam memberikan wawasan untuk membantu memprediksi pandemi di masa depan. Hampir selalu benar bahwa hal-hal yang terjadi di masa lalu mungkin terjadi lagi di masa mendatang," kata Enard.
Menggunakan informasi yang tersedia di database publik, Enard dan timnya menganalisis genom 2.504 orang di 26 populasi manusia yang berbeda di seluruh dunia. Temuan ini telah dimasukkan ke database pracetak repositori ilmu biologi bioRxiv pada 13 Januari, dan studi sedang dalam proses ditinjau untuk publikasi dalam jurnal ilmiah.
Ketika virus Corona menyelinap ke dalam sel manusia, mereka membajak mesin sel untuk bereplikasi. Artinya, keberhasilan virus bergantung pada interaksinya dengan ratusan protein manusia yang berbeda.
Para peneliti memperbesar sekumpulan 420 protein manusia yang diketahui berinteraksi dengan virus Corona. Sebanyak 332 di antaranya berinteraksi dengan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19. Sebagian besar protein ini membantu virus untuk mereplikasi di dalam sel, tetapi beberapa ada yang membantu sel melawan virus.
Gen yang mengkode protein tersebut bermutasi secara acak dan terus-menerus. Tetapi jika mutasi memberikan keuntungan pada gen, seperti kemampuan yang lebih baik untuk melawan virus, mutasi tersebut akan memiliki peluang lebih baik untuk diturunkan ke generasi berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar