Rabu dini hari nanti akan ada gerhana bulan di langit Indonesia. Inilah dua tempat spesial untuk menyambutnya.
Gerhana bulan terjadi ketika bumi menghalangi cahaya matahari untuk mencapai bulan. Gerhana bulan parsial atau sebagian akan terjadi di Indonesia para Rabu, 17 Juli 2019.
Berdasarkan keterangan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Selasa (16/7/2019) gerhana bulan parsial kali ini akan berdurasi 5 jam 3,74 menit. Waktu terjadinya fase gerhana adalah sebagai berikut:
Gerhana mulai: 01.42 WIB
Gerhana sebagian mulai: 03.01 WIB
Puncak gerhana: 04.30 WIB
Gerhana sebagian berakhir: 06.00 WIB
Gerhana berakhir: 07.19 WIB.
Gerhana bulan ini bisa dinikmati di langit Indonesia. Kalau traveler mau menikmatinya beramai-ramai, ada dua tempat yang bisa direkomendasikan:
1. Plaza Teater Jakarta
Disparbud Provinsi DKI Jakarta dan Planetarium Jakarta menggelar acara peneropongan umum gerhana bulan sebagian. Acara ini diadakan di Plaza Teater Jakarta, Jl Cikini Raya No 73, Menteng, Jakarta Pusat.
Kegiatan ini terbuka untuk umum dan gratis, namun kalau cuaca buruk acara ini dibatalkan. Acara ini dimulai pada pukul 21.00 WIB untuk mengamati Jupiter dan Saturnus serta berakhir pada pukul 06.00 WIB keesokan harinya.
2. Masjid Raya Jakarta Islamic Center
Melihat fenomena alam sambil beribadah, kenapa tidak? Banyak umat muslim menyambut gerhana dengan kegiatan ibadah salah gerhana bulan.
Kalau kamu tertarik, bisa datang ke Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC), Koja, Jakarta Utara. Di sana akan diadakan salat gerhana bulan.
Di Masjid Raya JIC, lanjut Rakhmad, salat gerhana bulan akan dilakukan sebelum salat subuh, pukul 03.00-04.00 WIB. Ustaz dari Madinah akan jadi imam sedangkan khatib oleh KH Ma'arif Fuadi.
Desa di Lereng Gunung Merapi Ini Kental akan Wisata Budayanya
Mau berwisata kebudayaan? Desa Pentingsari di kawasan lereng Gunung Merapi bisa menjadi tujuannya.
Sebagai salah satu desa wisata di Yogyakarta, pesona Desa Pentingsari sukses menorehkan berbagai prestasi sebagai Desa Ramah Lingkungan, Kebudayaan dan Pertanian. Terletak di lereng Gunung Merapi, 22,5 Km dari pusat kota. Pentingsari menawarkan kegiatan wisata pengalaman dalam bentuk pembelajaran dan interaksi.
Khususnya tentang alam, lingkungan, pertanian, perkebunan, kewirausahaan, kehidupan sosial-budaya, dan berbagai seni tradisional. Serta kearifan lokal yang masih sangat mengakar di masyarakat.
Penggagas Desa Wisata Pentingsari, Doto Yogantoro mengatakan, tahun 2008 warga mulai membangun mimpi dengan langkah kecil. Dengan harapan dapat menambah nilai kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Dengan berbagai keterbatasan, pengembangan Desa Wisata Pentingsari terus dilakukan agar bergerak maju.
"Saat itu, tidak ada sarana dan prasarana yang memadai sebagai penunjang pariwisata. Hanya ada 5 homestay, ladang darurat sebagai tenda dan ikatan. Pemandu kegiatan dan atraksi belum percaya diri karena mereka tidak memiliki kemampuan dan identitas. Jumlah tamu yang berkunjung pun belum mencapai 1.000 orang," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (16/7/2019).
Tahun 2009, Pentingsari mulai menerima bantuan dari berbagai pihak yang menyediakan program untuk meningkatkan fasilitas dan infrastruktur kamp. Seperti memperbaiki ruang, kamar mandi, tempat parkir, dan meningkatkan akses ke pintu masuk yang ada. Dengan program ini, para tamu yang berkunjung mulai meningkat secara signifikan dan mencapai 5.000 orang dengan penghasilan yang besar.
Setahun kemudian, kata Doto, program dan bantuan digunakan untuk memfasilitasi pelatihan SDM, memandu seragam, menambah fasilitas seni, kuliner dan suvenir. Dengan Program Pariwisata PNPM Mandiri, mampu mempercepat upaya untuk meningkatkan fasilitas dan infrastruktur desa wisata.
"Tahun 2010, sudah ada 30 homestay, berbagai atraksi pertanian, seni dan layanan budaya, serta kuliner yang mulai terorganisir dengan baik. Jumlah tamu sudah lebih dari 9.000 orang, dari target 10.000 orang," kata Doto.
Menurutnya, pengembangan Desa Wisata Pentingsari bukan tanpa hambatan. Desa ini sempat porak-poranda saat terjadi letusan Gunung Merapi pada Oktober 2010. Dibutuhkan lebih dari 6 bulan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dan wisatawan bahwa desa wisata akan dapat berkembang kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar