Air terjun indoor tertinggi di Jewel Changi punya atraksi pertunjukan hologram yang indah bukan main. Kamu yang mau lihat, catat dulu jam tayangnya!
Adalah HSBC Rain Vortex, air terun indoor tertinggi yang menjadi pusat Jewel Changi. Dirancang oleh arsitek keturunan Israel-Kanada bernama Moshe Safdie, air terjun tersebut juga dilengkapi dengan lighting dan permainan hologram.
Pertunjukan lighting dan permainan hologram di HSBC Rain Vortex itu pun hanya dapat dinikmati oleh traveler yang singgah ke Jewel di malam hari.
Dikunjungi oleh detikcom atas undangan Changi Airport Group, Rabu (24/7) kemarin, pertunjukan itu pun dilangsungkan selang satu jam setiap hari. Jangan sampai terlewat!
Untuk informasi, pertunjukan cahaya dan hologram di HSBC Rain Vortex dimulai dari pukul 19.30-00.30 waktu setempat. Durasi pertunjukan pun cukup singkat, yakni lima menit saja.
Biar makin maksimal, ada sejumlah spot strategis di Jewel untuk melihat pertunjukan tersebut. Mulai dari L2, lobi H&F hingga area Canopy Park yang ada di lantai teratas Jewel.
Menariknya, masing-masing spot menyuguhkan sensasi berbeda. Tak ada salahnya melihat pertunjukan cahaya dari spot-spot berbeda pada setiap kunjungan. Dijamin kamu bakal dibuat terpukau!
Memakai Koteka, Bangga Jadi Bagian Indonesia
Koteka menjadi identitas dari Papua. Sebagai pakaian tradisional yang terancam punah, pakai koteka itu gampang-gampang susah lho.
Liburan ke Papua pasti tak bisa lepas dari suvenir khasnya, koteka. Koteka sendiri menjadi pakaian tradisional yang dipakai oleh kaum pria.
Sayangnya, pemakaian koteka sebagai baju tradisional sudah menurun drastis. Bahkan koteka terancam punah karena penduduk Papua tak lagi memakainya.
Tak ada yang lebih tepat dari peribahasa, tak kenal maka tak sayang. Mari melihat ke masa lalu, menilai fungsi utama dari pakaian ini.
Pertanyaan pertama yang bisa kita lontarkan, kenapa orang Papua pakai koteka?
Alasannya sangat sederhana, karena koteka mempermudah pergerakan mereka saat masuk ke hutan dan berburu. Baju modern seperti yang kita pakai ini, hanya akan memperburuk keadaan. Bukannya nyaman, orang Papua bisa kegerahan di dalam hutan. Hewan buruan pun sangat sensitif dengan warna.
Tim detikcom pernah mencoba untuk memakai koteka. Afif Farhan, Wakil Redaktur Pelaksana detikTraveler, menceritakan pengalamannya bersama Suku Dani di Wamena.
"Pergi ke Wamena tahun 2012, tepatnya di Distrik Kurulu. Saat itu saya tinggal di Honai khusus wisatawan, bersama Suku Dani," kenang Afif, Rabu (31/7/2019)
Afif merasakan langsung kehidupan warga Suku Dani, termasuk memakai koteka. Supaya tidak asing dengan koteka, Afif dikenalkan terlebih dahulu tentang pembuatannya.
"Saya terkejut, karena koteka ternyata dibuat dari labu panjang yang berwarna hijau," cerita Afif.
Dalam pembuatannya, labu panjang tersebut akan dipotong pangkalnya. Kemudian, labu dipanggang supaya isinya bisa dibersihkan. Setelah bersih, labu akan kembali dipanaskan di atas api sampai keras dan berwarna coklat kehitaman.
Koteka yang baru selesai dipanggang dijemur terlebih dahulu sebentar. Tidak sampai setengah jam, koteka akan kering dan sudah bisa digunakan.
"Ketika sudah jadi, orang papua menawarkan saya untuk memakai koteka. Saya pun penasaran ingin coba," lanjut Afif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar