Untuk menuju ke pulau ini, Kami menaiki perahu dari belakang hotel D'Maleo Hotel and Convention Center. Perahu ini lumayan besar d'travelers, katanya biasa diisi hingga 10 orang. Biaya perahu ini cukup murah, hanya Rp 200.000 PP per satu perahu itu, karena kita berempat yaudah jadinya biaya dibagi deh.
Sepanjang perjalanan menuju Pulau Karampuang, disajikan dengan jernihnya air laut, dan sepoi-sepoi angin. Makin mendekati tujuan, airnya semakin jernih, berwarna biru toska, dan memang sepertinya masih sepi dan belum terlalu dikomersilkan.
Setelah kurang lebih 20-30 menit, tibalah kami di Pulau Karampuang. Benar saja d'travelers, air di pulau ini jernih banget, berwarna hijau toska dan kita bisa bebas melihat ikan-ikan yang ada. Memasuki pulau ini, kita gak dipungut biaya. Percaya tidak, waktu kita datang ke sini wisatawannya hanya tim kami saja.
Jadi secara gak langsung sudah kayak private island. Wah benar-benar deh, ini sih memang wisata yang masih jarang terjamah. Aktivitas yang bisa dilakukan di pulau ini adalah berenang, snorkeling atau sekedar santai-santai di warung yang kebetulan pada saat itu hanya ada 1 warung yang buka.
Usai dari Pulau Karampuang, kita melanjutkan perjalanan ke salah satu bukit yang dinamai Mamuju City. Di sini juga terdapat Rujaba yaitu Rumah Jabatan Bupati Mamuju, yang lokasinya cukup jauh dari pemukiman warga. Rujabanya lumayan luas, dan ada satu pendopo yang memang dapat digunakan untuk umum. Di mana lokasinya berdekatan dengn bukit bertuliskan Mamuju City.
Akhir kata, tidak afdol rasanya apabila setelah bertandang singkat di Mamuju kalau kita tidak mengetahui apa sih potensi ekonomi yang ada di Mamuju. Atau apa sih buah tangan yang bisa dibeli untuk mendukung perekonomian di Mamuju.
Oleh-oleh khas Mamuju dapat berupa makanan ringan seperti kerupuk yang terbuat dari rumput laut, kacang-kacangan, abon ayam dan abon ikan marlin, serta cinderamata lainnya seperti kain tenun khas Mandar dan sarung sutra khas Sulawesi.
Pada kesempatan kemarin, saya juga sempat berkunjung ke salah satu UKM yang ada di perumahan BTN Ampi, di sini dibuat olahan rumput laut, yaitu snack rumput laut yang rasanya gurih dan renyah. Harga untuk snack ini juga cukup murah sekitar Rp 10.000-15.000 per pack (250 gram).
Sekian cerita perjalanan singkat dari saya, semoga saya bisa berkunjung ke daerah-daerah yang masih belum terlalu terekspos dan dapat berbagi pengalaman kepada para d'travelers semua. Terima Kasih.
Karena hanya ada 1 mal yaitu Matos yang sepertinya masih mal baru, dan ada Pantai Manakarra, ya mungkin kayka Pantai Losari nya Makasar. Bulan Ramadhan di Mamuju ini lumayan ramai, karena di sekitaran Matos dan Pantai Manakarra banyak berjualan es kelapa muda, es pisang ijo, dan berbagai kudapan lainnya.
Untuk es kelapa muda sendiri 1 batok kelapanya dihargai Rp 10.000 saja. Ya lumayan kan gak terlalu mahal, dan bisa disantap saat berbuka dengan ditemani sepoi-sepoi angin Pantai Manakarra. Selain itu, di Mamuju ini mayoritas beragama muslim.
Karena yang saya perhatikan kemarin terdapat dua masjid besar yang ada di sekitar pinggiran jalan Pantai Manakarra, salah satu mesjid besarnya ada persis di depan D'Maleo Hotel and Convention Center. Tata Cara mengumumkan berbuka puasa di sini juga unik d'travellers. Soalnya tanda berbuka puasa ditandai dengan sirine terlebih dahulu, bukan dengan kumandang adzan.
Adzan berkumandang sekitar kurang lebih 10-15 menit setelah sirine tanda berbuka puasa berbunyi (mungkin khatibnya buka puasa dulu kali ya). Setelah mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, keesokan paginya saya beserta teman-teman mencoba untuk pergi ke salah satu pulau, yaitu Pulau Karampuang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar