Taka Makassar, surga bawah laut yang mengagumkan
Bersama Masyarakat Peduli Sampah (MPS) kami Tim KKN berkesempatan mengeksplore keindahan Taka Makassar. Tujuan kami tak hanya untuk berwisata melainkan untuk menjaga keindahan ekosistem alam dengan memungut sampah dan senam pagi.
Sesampainya di Taka Makassar. Mata akan disuguhkan dengan hamparan pasir putih kemerah-merahan berpadu dengan kejernihan air berwarna toska dilengkapi keindahan pemandangan bawah laut yang mempesona. Kapal-kapal terlihat seperti melayang di atas air karena kejernihan air lautnya. Taka Makassar merupakan gundukan pasir putih yang membentuk pulau berbentuk huruf C. Sesampainya disana, tak sabar hati ini untuk melangkahkan kaki mengambil spot-spot surgawi dengan lensa kamera. Pemandangan sungguh luar biasa membuat saya semakin bangga terlahir menjadi generasi muda Indonesia.
Matahari bersinar cerah diiringi hembusan angin sepoi-sepoi yang membuat kami semakin bersemangat untuk melakukan senam pagi. Iringan lagu daerah NTT mengiringi gerak senam kami membuat tubuh terasa bugar dan semangat. Kemudian kami membersihkan pulau dengan mengambil sampah yang berserakan. Sebagai generasi muda, tidak sepantasnya kita merusak keindahan alam Indonesia dengan membuang sampah sembarangan. Bawalah sampah atau buanglah sampah pada tempatnya saat kita travelling agar keindahan alam Indonesia tetap lestari.
Gili Lawa
Gili Lawa merupakan sebuah pulau kecil tak berpenghuni di gugusan Kepulauan Komodo. Semenjak tragedi kebakaran pada tanggal 1 Agustus 2018, Gili Lawa sangat sepi pengunjung. Gili Lawa yang dulunya terkenal dengan keindahan hijaunya hamparan sabana kini telah berubah menjadi gersang. Sabana menjadi coklat dan pepohonan terlihat rapuh tanpa daun. Akan tetapi pemandangan tersebut memiliki daya tarik tersendiri, kita seperti berada di Korea dengan suasana musim gugur yang menghangatkan.
Di pulau kecil yang tak berpenghuni ini terdapat satu posko dengan arsitektur khas NTT yang dihuni petugas TNK untuk menjaga dan melindungi Gili Lawa. Kami memutuskan untuk berteduh dari teriknya sinar matahari di Posko TNK sambil mengisi tenaga sebelum memunguti sampah. Setelah sang surya telah bersembunyi dibalik awan, bergegas kami melangkahkan kaki memunguti sampah di Gili Lawa. Kemudian kami beristirahat di bawah pohon sambil membawa kulit mangga yang buahnya telah kita makan di Taka Makassar.
Tiba-tiba segerombolan rusa liar mendekat sambil memakan kulit mangga yang kami bawa. Ini adalah pengalaman pertama saya berinteraksi dengan rusa liar secara langsung. Rusa begitu jinak dan dapat diajak berinteraksi dengan manusia. Rasanya tak ingin kami menyia-nyiakan momen langka ini tanpa mengabadikannya dengan lensa kamera.
Surga di Pulau Padar
Ada seseorang yang bilang bagai sayur tanpa garam kalau kamu ke Labuan Bajo tanpa berkunjung ke Pulau Padar. Kalimat tersebut terngiang ketika saya berkesempatan untuk dapat mengabdi di Desa Komodo bersama Tim KKN Mandiri UNNES Desa Komodo, kami wajib menginjakkan kaki di pulau Padar. Kami bersama pemuda desa Komodo berlibur ke Pulau Padar.
Perjalanan dari desa Komodo sampai ke Pulau Padar membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Terlintas dalam benakku perjalanan akan membosankan karena jarak yang cukup jauh dari desa, tetapi dugaanku salah! Sepanjang perjalanan kita disuguhkan hamparan air laut biru kehijauan yang sangat jernih, terumbu karang di dasar laut terlihat begitu menawan dilengkapi gugusan perbukitan coklat yang menyejukkan mata. Suara mesin kapal terhenti menandakan kami telah sampai di Pulau Padar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar