Perselingkuhan yang diwarnai dengan hadirnya orang ketiga atau kini disebut dengan istilah pelakor (perebut laki orang) menjadi ramai diperbincangkan di lini masa. Bahkan kini banyak yang tak segan dan mengakui dirinya sebagai 'pelakor'.
Ada beberapa alasan seseorang tega menjadi perebut laki orang. Menurut psikolog klinis Stephanie Newman PhD, berhubungan dengan pria yang sudah menikah oleh sebagian orang dirasa lebih menantang. Ada sensasi yang didapatkan seseorang saat menjalani 'hubungan rahasia' dengan pria beristri.
"Ada juga wanita super kompetitif yang membutuhkan kompetensi. Berhubungan dengan suami orang meningkatkan rasa percaya dirinya. Semakin 'panas' saingannya, semakin dia merasa lebih superior dibanding sang istri," jelas Newman dikutip dari Pshycology Today.
Selain itu, psikolog dari Tiga Genarasi, Sri Juwita Kusumawardhani MPsi, mengatakan alasan lain seseorang tega menjadi perebut suami orang lantaran kontrol diri mereka yang amat rendah sehingga tak lagi memahami norma.
"Istilahnya kayak nggak punya perasaan kan. Berarti empatinya itu nggak terlatih. Jadi dia nggak bisa menempatkan diri kalau saya atau ibu saya yang mengalami hal itu," tutur Wita, sapaan akrabnya, saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.
Meski demikian perlu diingat bahwa masih banyak wanita yang berpikiran waras dan tidak ingin melakukan hubungan perselingkuhan. Semua kembali pada yang 'digoda' dan pelakor itu sendiri.
Perselingkuhan butuh dua pihak untuk bisa terjadi. Pria ikut andil, karena secara sadar memutuskan untuk menjalin hubungan terlarang.
Agar Tak Seperti Kasus 'Bu Kombes', Ini Tips Tagih Utang Agar Cepat Dibayar
Masalah yang menimpa Febi Nur Amalia menjadi perhatian. Ia diseret ke pengadilan karena tuduhan pencemaran nama baik saat menagih utang di media sosial.
"Kami jaksa penuntut umum dalam perkara ini memperhatikan undang-undang yang bersangkutan menuntut supaya majelis hakim pengadilan negeri Medan yang memeriksa perkara ini memutuskan menjatuhkan pidana selama 2 tahun," tutur jaksa di PN Medan, Selasa (14/7/2020).
Menagih utang bisa jadi tantangan tersendiri, apalagi bila yang akan ditagih ternyata malah lebih galak.
Psikolog klinis dari Pro Help Center, Nuzulia Rahma Tristinarum, menyarankan saat menagih utang usahakan sentuh sisi baik orang yang dituju. Tunjukkan sikap tegas, namun tetap lembut.
"Sampaikan baik-baik pada pengutang bahwa kita pun sedang membutuhkan uang tersebut. Sentuh sisi kebaikannya," kata Rahma pada detikcom dan ditulis Kamis (16/7/2020).
Bila kemudian pengutang mengaku belum bisa membayar, Rahma menyarankan agar bertanya alasannya dan minta kepastian kapan akan dibayar. Bila perlu bujuk pengutang untuk membuat perjanjian baru di atas materai mengenai rencana pembayaran.
Usaha menyindir dengan bercerita di media sosial bisa dilakukan dengan beberapa catatan. Perlu diingat agar jangan sampai memojokkan pengutang dengan menyebut nama, inisial, atau hal lain yang bisa menunjukkan identitasnya.
"Ceritakan secara umum saja dan jadikan cerita tersebut sebagai pembelajaran untuk diri sendiri dan orang lain yang membaca. Jika yang bersangkutan adalah orang yang baik, pasti akan merasa bersalah membacanya dan tergerak membayar," kata Rahma.
Bila cara-cara tersebut masih belum bisa membuat utang dibayar maka tidak ada salahnya berkonsultasi dengan ahli untuk memikirkan langkah hukum.
https://cinemamovie28.com/shokugeki-no-souma-season-4-episode-5/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar