China mengingatkan warganya di Kazakhstan soal ancaman pneumonia misterius di negara tersebut. Organisasi kesehatan dunia WHO menyebut, penyakit yang dimaksud kemungkinan adalah COVID-19 yang tidak terdeteksi.
Lebih dari 1.700 orang di Kazakhstan meninggal karena pneumonia yang tidak teridentifikasi baru-baru ini, termasuk di antaranya warga China. Disebutkan, tingkat kematiannya lebih tinggi dibanding virus Corona COVID-19.
Otoritas Kazakhstan membantah adanya wabah. Istilah pneumonia yang tak terspesifikasi, menurut pejabat di Kazakhstan digunakan untuk kasus COVID-19 yang terdiagnosis hanya berdasarkan gejala dan bukan dengan tes laboratorium.
Dalam keterangan persnya, WHO melalui direktur eksekutif program kedaruratan kesehatan Michael Ryan menyebut wabah pneumonia yang dimaksud ada dalam pantauan. WHO bekerja sama dengan Kazakhstan tengah menginvestigasi hal itu.
Dugaan keterkaitan dengan COVID-19 diperkuat dengan lonjakan tinggi pada kasus COVID-19 belakangan ini. Lebih dari 10.000 kasus terdiagnosis pekan ini.
WHO tengah memeriksa kualitas tes yang dilakukan dan beberapa dari pneumonia misterius adalah karena false negative pada hasil tes Corona.
"Kurva ke atas COVID-19 di negara itu menunjukkan bahwa kasus tersebut adalah faktanya kasus COVID-19 yang tidak terdiagnosis," kata Ryan, dikutip dari Livescience, Minggu (12/7/2020).
Bagaimana Virus Corona Menyerang Banyak Organ Tubuh Selain Paru-paru?
- Virus CoronaCOVID-19 tidak hanya ditemukan menyerang paru-paru. Ginjal, hati, jantung, otak, sistem saraf, kulit, dan saluran pencernaan juga terdampak virus Corona, demikian laporan tinjauan medis terkait kondisi pasien Corona.
Dikutip dari CNN International, tim di Pusat Medis Irving Universitas Columbia di New York City, salah satu rumah sakit yang dipenuhi pasien Corona mengumpulkan laporan dari tim medis lain di seluruh dunia.
Gambaran komprehensif mereka menyebutkan virus Corona hampir menyerang setiap sistem utama dalam tubuh manusia. Disebutkan, secara langsung merusak organ dan menyebabkan darah menjadi beku, serta jantung kehilangan ritme sehatnya. Hal ni menyebabkan sakit kepala, pusing, nyeri otot, sakit perut, dan gejala lainnya muncul bersamaan dengan gejala pernapasan klasik seperti batuk dan demam.
"Dokter perlu menganggap virus Corona COVID-19 sebagai penyakit multisistem," kata Dr Aakriti Gupta, seorang ahli kardiologi di Columbia yang bekerja pada tinjauan, dalam sebuah pernyataan.
"Ada banyak berita tentang pembekuan darah, tetapi juga penting untuk memahami bahwa sebagian besar pasien ini mengidap kerusakan ginjal, jantung, dan otak, dan dokter perlu merawat kondisi itu bersama dengan penyakit pernapasan," lanjut Gupta.
"Temuan ini menunjukkan bahwa cedera multi-organ dapat terjadi setidaknya kebanyakan karena kerusakan jaringan virus langsung," sebut para tim penulis.
Infeksi virus Corona juga dapat mengaktifkan sistem kekebalan tubuh. Bagian dari respons sistem kekebalan tubuh termasuk produksi protein inflamasi atau peradangan yang disebut sitokin.
Peradangan ini dapat merusak sel-sel dan organ-organ dan yang disebut badai sitokin. Hal ini menjadi salah satu penyebab gejala Corona kemudian menjadi parah.
"Virus ini tidak biasa dan sulit untuk tidak mengambil langkah mundur dan tidak terkesan oleh berapa banyak manifestasinya pada tubuh manusia," jelas Dr Mahesh Madhavan, sesama ahli kardiologi yang bekerja pada tinjauan tersebut, mengatakan dalam sebuah pernyataan.
Efek pembekuan darah tampaknya disebabkan oleh beberapa mekanisme yang berbeda termasuk kerusakan langsung sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan gangguan dengan berbagai mekanisme pembekuan dalam darah itu sendiri. Oksigen dalam darah yang rendah juga disebabkan oleh pneumonia. Hal ini dapat membuat darah lebih mungkin membeku, kata para peneliti.
https://indomovie28.net/cast/tse-miu/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar