Popularitas Clubhouse yang terus meroket membuat banyak perusahaan teknologi berlomba-lomba mengembangkan tiruannya. Seperti Instagram yang baru-baru ini terungkap mengembangkan fitur 'audio rooms'.
Keberadaan fitur ini pertama kali ditemukan oleh developer Alessandro Paluzzi. Sepertinya fitur ini akan menjadi bagian dari Instagram dan tidak akan menjadi aplikasi terpisah, seperti dikutip dari MSPowerUser, Minggu (7/3/2021).
Dari screenshot yang diunggah Paluzzi di akun Twitter-nya, audio rooms ini bisa diakses lewat menu Chats di aplikasi Instagram. Jika sebelumnya hanya ada dua tombol untuk mengirim pesan baru dan membuat panggilan video, kini ada tombol ketiga dengan ikon mikrofon.
Paluzzi tidak memberikan penjelasan lebih lanjut tentang cara kerja fitur ini. Tapi hal ini tidak mengejutkan mengingat beberapa waktu yang lalu Facebook dikabarkan berniat mengembangkan layanan serupa Clubhouse.
Instagram sendiri baru-baru ini meluncurkan fitur Live Rooms secara global. Fitur ini memungkinkan pengguna Instagram untuk live bersama tiga orang lainnya.
Aplikasi berbagi foto ini juga memiliki fitur Rooms yang memungkinkan pengguna untuk melakukan panggilan video dengan partisipan hingga 50 orang. Fitur ini juga terintegrasi dengan Messenger dan pengguna yang tidak memiliki akun Instagram atau Messenger tetap bisa bergabung.
Selain itu, Paluzzi juga mengungkap Instagram sedang menyiapkan sistem enkripsi end-to-end untuk pesan yang dikirim lewat chat. Fitur ini tentu bisa membuat pengguna yang sadar privasi merasa lebih aman karena percakapan mereka tidak bisa diintip siapapun.
Instagram bukan satu-satunya platform media sosial yang ikut mengembangkan pesain Clubhouse. Belum lama ini, Twitter merilis fitur audio chat bernama Spaces dalam versi beta untuk pengguna Android dan iOS.
Perusahaan induk TikTok, ByteDance, juga mengembangkan aplikasi mirip Clubhouse. Selain itu, Xiaomi juga membangkitkan kembali aplikasi Mi Talk menjadi aplikasi audio chat khusus untuk kaum profesional.
https://trimay98.com/movies/matthias-maxime/
Pengapalan Smartwatch Stagnan, Apple Watch Masih Paling Laris
Pengapalan smartwatch selama Q4 2020 lalu menurun, yang membuat grafik pengapalan selama 2020 menjadi stagnan.
Menurut laporan Counterpoint Research berjudul Global Smartphone Shipments Tracker, Apple masih menjadi perusahaan dengan pengapalan smartwatch tertinggi selama Q4 2020.
Bahkan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, tercatat adanya pertumbuhan pengapalan Apple Watch sebesar 6%, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Minggu (7/3/2021).
Ada juga Samsung yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 1%, meski pabrikan lain nasibnya tak sebaik itu. Contohnya Huawei dan Fitbit yang pangsa pasarnya tak tumbuh, atau bahkan turun dibanding Q4 2019.
Analis senior Counterpoint Sujeong Lim memuji kehadiran Apple Watch SE, yang merupakan smartwatch kelas menengah dan lebih murah ketimbang Apple Watch Seris 6. Keduanya dirilis pada September lalu.
Menurut Lim, Apple Watch SE bakal memaksa pabrikan lain seperti Samsung untuk merilis smartwatch lain di kelas yang sama. Hal ini akan memicu adopsi smartwatch yang lebih besar lagi.
Memang, Apple Watch SE harganya terpaut cukup jauh dibanding Series 6. Yaitu USD 279 dibanding USD 399. Meski memang fitur yang tersedia lebih sedikit, seperti tidak ada layar always-on, ECG, ataupun kemampuan prosesor yang lebih tinggi.
Lim pun menambahkan dalam tiga sampai empat tahun ke depan akan ada pemain lain yang mendapat market share signifikan seperti Oppo. Kehadiran mereka ini diperkirakan akan memaksa kompetitornya untuk menghadirkan produk yang lebih murah.
Di Indonesia sendiri, persentase pengguna smartwatch belum bisa dibilang besar. Berdasarkan hasil laporan terbaru Hootsuite dan We Are Social, dari 202,6 juta pengguna internet di Indonesia hingga Januari 2021, hanya sekitar 13,3% yang menggunakan smartwatch.
Persentase pengguna internet berusia 16 hingga 64 tahun yang memiliki masing-masing jenis perangkat, mobile phone (98,3%), smartphone (98,2%), non-smartphone mobile phone (16%), laptop/desktop (74,7%), tablet (18,5%), TV streaming (6%), konsol game (16,2%), perangkat smarthome (5,7%), smartwatch/wristband (13,3%), dan perangkat virtual reality (4,2%).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar