Fenomena 'overtourism' melanda berbagai destinasi tersohor di dunia. Seperti Amsterdam di Belanda, yang sudah kepenuhan turis.
CNN Travel seperti dilihat detikcom, Selasa (4/6/2019) menulis artikel 'Sorry, tourist... Amsterdam doesn't want you anymore'. Dijelaskan, Amsterdam sudah terlalu banyak kedatangan turis yang mana dapat menyebabkan suasana kota menjadi tidak nyaman. Baik untuk turis itu sendiri, juga untuk penduduk Amsterdam.
"Tekanan kedatangan turis sangat tinggi," kata Ellen Van Loon, seorang arsitek yang bekerja untuk Office for Metropolitan Architecture (OMA) di Belanda.
Datanya adalah, 18 juta turis datang ke Amsterdam selama 2018. Diperkirakan angkanya terus naik hingga 42 juta turis di tahun 2030, atau artinya angka itu 50 kali lebih banyak dibanding penduduk Amsterdamnya.
Semakin banyak turis datang, tentu semakin sulit untuk memantau dan mengaturnya. Terutama, turis-turis nakal yang bisa saja merusak fasilitas umum atau mengganggu ketertiban.
Lantas, harus bagaimana?
"Amsterdam sangat dicintai turis, tapi Belanda masih punya destinasi lainnya," kata Van Loon.
Oleh sebab itu, pemerintah Belanda akan melakukan perubahan untuk pariwisata. Tidak lagi melakukan promosi supaya turis datang, akan tetapi melakukan manajemen destinasi.
Selain mengarahkan turis ke destinasi lain, pemerintah Belanda akan mengawasi turis-turis nakal dengan memberlakukan aturan baru dan menerapkan denda, menutup berbagai tempat hiburan dan lainnya.
Bahkan, kawasan Red Light District sudah melarang kunjungan grup tur dan melarang pihak travel agent menjual paket tur ke sana. Aturan itu bakal berlaku di 1 Januari 2020.
Meski begitu, pemerintah Belanda juga tak menutup mata. Kedatangan turis ke negaranya menyumbang devisa sebanyak USD 91,5 M atau jika dirupiahkan setara Rp 1 biliun!
Hanya saja itu tadi, jangan semua turis datang ke Amsterdam. Masih ada Den Haag, Rotterdam, Utrecht, Volendam dan masih banyak lagi. Pun tempat-tempat wisatanya juga menarik.
"Alasan turis datang ke Amsterdam adalah karena ada suatu karakter atau ciri khas yang mereka cintai. Tapi pada titik tertentu, ketika jumlah turis terus meningkat, mereka 'membunuh' Kota Amsterdam itu sendiri," tutup Van Loon.
Kisah Pelaut Tampan Bebaskan Penyu dari Jerat Jaring
Samudera Pasifik menjadi saksi bisu dari kisah heroik pelaut Norwegia. Saat sedang melaut, pria tampan ini bebaskan 4 penyu yang terbelit jaring.
Sebuah unggahan video di Youtube viral karena kisah heroik seorang pelaut tampan dan kawannya, Magnus. Diintip detikcom dari akun WiigWorld, Selasa (4/6/2019), pelaut tersebut berada di Samudera Pasifik.
Saat sedang berlayar, tiba-tiba saja ada sebuah sampah jaring ikan yang mengapung. Rupanya tak cuma jaring, 4 ekor penyu terlihat terbelit di dalamnya.
Mendekatkan kapal, si pelaut tampan memastikan penyu-penyu tersebut dalam keadaan hidup. Dengan sigap, ia memompa perahu karet untuk turun lebih dekat dengan penyu-penyu tersebut.
Penyu pertama terlihat terbelit dengan jaring dan botol plastik yang digunakan sebagai pelampung. Si pelaut langsung menggunting jaring yang membelit ke badan penyu.
Begitu lepas, penyu pertama terlihat sangat senang. Si penyu bahkan berenang dengan mengepakkan siripnya di permukaan, air.
Si pelaut yang tak disebutkan namanya tersebut melanjutkan tugasnya memotong jaring yang membelit penyu kedua. Penyu kedua lepas dan langsung menyelam bebas ke dalam lautan.
Masih ada dua penyu lagi. Yang ketiga sudah sedang berusaha untuk lepas dari jaring dan berada cukup jauh dari kapal. Si pelaut langsung menarik tali jaring yang berada di dekatnya.
Magnus beranggapan bahwa penyu-penyu ini sepertinya keluarga. Penyu ketiga terbelit jaring sampai ke leher. Si pelaut bahkan mengatakan bahwa penyu ini pasti kesulitan untuk bernapas.
Dengan agak susah payah, penyu ketika berhasil diselamatkan dari lilitan jaring. Yang terakhir adalah penyu keempat.
Penyu ini berusaha keras untuk lepas dari jeratan jaring sampai harus ditarik cukup kuat ke dekat kapal. Sementara si pelaut mencoba menarik, penyu ini tetap berusaha untuk berenang ke arah yang berlawanan.
Mengangkat penyu tersebut ke pinggir perahu karet, si pelaut mencoba untuk memotong tali jaring yang membelit penyu itu.
Meronta, si penyu tercebur ke dalam air dan si pelaut harus kembali mengangkat penyu tersebut ke perahu. Mencoba untuk melihat ke dalam lipatan leher penyu, si pelaut terus memotong tali jaring yang membelit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar