Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan mustahil mengharapkan pandemi COVID-19 bisa berakhir pada akhir tahun ini, meski penularan virus mulai terkendali.
"Saya pikir ini akan sangat prematur dan saya pikir tidak realistis untuk berpikir bahwa kita akan menyelesaikan virus ini pada akhir tahun ini," kata kepala program kedaruratan WHO Michael Ryan, yang dikutip dari New York Post, Kamis (4/3/2021).
"Jika kita pintar, kita bisa menyelesaikan masalah rawat inap dan kematian, serta tragedi yang terkait dengan pandemi ini," lanjutnya.
Ryan mengatakan, berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 yang ada saat ini telah membantu memperlambat lajunya penyebaran virus Corona. Hal ini memberikan dampak yang signifikan terhadap risiko penularan virus.
"Jika vaksin bisa berdampak tidak hanya pada kasus kematian dan rawat inap pasien, tetapi juga memiliki dampak yang signifikan terhadap dinamika penularan dan risiko penularan, saya yakin kita akan mempercepat pengendalian pandemi ini," ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan penyesalannya saat kelompok usia muda yang sehat di beberapa negara maju menerima vaksin lebih dulu, sementara para pekerja garis depan di negara berkembang belum mendapatkannya.
"Negara tidak berlomba dengan satu sama lain. Ini adalah perlombaan umum melawan virus. Kami tidak meminta negara untuk mempertaruhkan rakyatnya sendiri," jelas Tedros.
"Kami meminta semua negara untuk menjadi bagian dari upaya global, untuk menekan penyebaran virus di mana-mana," imbuhnya.
https://nonton08.com/movies/always-and-forever/
Rapid Antigen Sudah Masuk Laporan Harian COVID-19 RI, Tracing Mulai Ngegas?
Rapid antigen sudah masuk laporan Corona harian per Rabu (3/3/2021). Dalam data Corona harian yang diterima dari Satgas COVID-19 per kemarin, ada 1.471 orang yang dites Corona rapid antigen.
Aturan rapid antigen menjadi diagnostik konfirmasi positif COVID-19 untuk skrining ditetapkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin per 8 Februari 2021 lalu. Aturan penggunaan tertuang di Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/Menkes/446/2021 tentang Penggunaan Rapid Diagnostic Test Antigen dalam Pemeriksaan Corona Virus Disease 2019.
Menanggapi laporan rapid antigen yang baru masuk Corona harian, Anggota Bidang Tracking Satgas Penanganan COVID-19 Masdalina Pane menyebut hal tersebut merupakan sistem baru.
"Regulasinya (iya Februari). Tapi sistemnya baru fix saat ini," jelas Pane melalui pesan singkat kepada detikcom Kamis (4/3/2021).
Lebih lanjut, Pane mengingatkan rapid antigen sebagai diagnostik COVID-19 bukan menjadi standar utama. Rapid antigen hanya digunakan bagi sejumlah wilayah yang kesulitan dalam kapasitas mesin PCR.
"Bukan untuk semua wilayah," tegas Pane.
Penggunaan rapid antigen untuk diagnostik untuk memperluas tracing dalam penelusuran kontak erat lebih banyak, termasuk pada orang tanpa gejala. Diharapkan bisa mencapai sasaran ideal, yaitu 30 orang.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dr Siti Nadia Tarmizi beberapa waktu lalu menyebut jika hasil rapid test antigen menunjukkan hasil negatif, perlu pemeriksaan lebih lanjut, baik dengan rapid test antigen kembali ataupun PCR.
Bagi beberapa daerah yang sulit mengakses pemeriksaan RT PCR, bisa melanjutkan test dengan rapid test antigen. Namun, mereka yang tak kesulitan mengakses RT PCR, diwajibkan melakukan pemeriksaan lanjut dengan alat tersebut.
"Maka konfirmasi (rapid test antigen bila negatif) harus dilakukan dengan mengulang pemeriksaan antigen dalam kurun waktu kurang dari 24 jam," kata Nadia beberapa waktu lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar