Peneliti utama vaksin Anhui dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Rodman Tarigan mengungkap keunggulan vaksin rekombinan dibandingkan jenis vaksin Corona berbasis virus yang dimatikan (inactivated virus) dan virus yang dilemahkan (attenuated virus).
"Berbeda dengan vaksin yang menggunakan platform berupa virus yang dilemahkan atau virus yang dimatikan. Vaksin rekombinan berbasis platform spike glycoprotein (protein S) dari Novel Corona virus, secara teori dapat memicu pembentukan titer antibodi yang lebih tinggi dan mampu memberikan proteksi yang lebih komprehensif," ujar Rodman dalam paparannya di RSP Unpad, Rabu (3/3/2021).
Rodman mengatakan, protein S pada virus Corona ini berfungsi untuk memediasi penempelan dan masuknya virus ke sel makhluk hidup yang terinfeksi. Bila disederhanakan, tidak semua bagian dari virus dijadikan bahan vaksin, tetapi hanya 'rambut yang menempel' atau binding reseptor domain (BDR) dari virus.
Presiden Direktur PT Jakarta Biopharmaticeutical Industry (JBio) Mahendra Suhardono mengatakan, vaksin Anhui menggunakan bagian virus yang menimbulkan penyakit ke manusia.
"Jadi sangat selektif, jadinya yang hanya menempel itu saja, protein S. Jadi itu yang menimbulkan penyakit ke manusia, kita murnikan bagian BDR itu, untuk memberikan hasil yang lebih baik," kata Mahendra.
Setiap relawan, ujar Mahendra, mendapatkan vaksin Anhui tiga kali dengan interval waktu penyuntikan satu bulan. "Untuk memberikan waktu perlindungan yang lebih panjang, dengan pemberian tiga kali memberikan perlindungan lebih aman. Kemungkinan besar akan turun lagi kalau yang hanya sekali atau dua kali, perlu booster lagi," ujar Mahendra.
https://nonton08.com/movies/married-women-changing-husbands/
Kapan Pandemi COVID-19 Berakhir? Begini Prediksi Terbaru dari WHO
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan mustahil mengharapkan pandemi COVID-19 bisa berakhir pada akhir tahun ini, meski penularan virus mulai terkendali.
"Saya pikir ini akan sangat prematur dan saya pikir tidak realistis untuk berpikir bahwa kita akan menyelesaikan virus ini pada akhir tahun ini," kata kepala program kedaruratan WHO Michael Ryan, yang dikutip dari New York Post, Kamis (4/3/2021).
"Jika kita pintar, kita bisa menyelesaikan masalah rawat inap dan kematian, serta tragedi yang terkait dengan pandemi ini," lanjutnya.
Ryan mengatakan, berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 yang ada saat ini telah membantu memperlambat lajunya penyebaran virus Corona. Hal ini memberikan dampak yang signifikan terhadap risiko penularan virus.
"Jika vaksin bisa berdampak tidak hanya pada kasus kematian dan rawat inap pasien, tetapi juga memiliki dampak yang signifikan terhadap dinamika penularan dan risiko penularan, saya yakin kita akan mempercepat pengendalian pandemi ini," ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan penyesalannya saat kelompok usia muda yang sehat di beberapa negara maju menerima vaksin lebih dulu, sementara para pekerja garis depan di negara berkembang belum mendapatkannya.
"Negara tidak berlomba dengan satu sama lain. Ini adalah perlombaan umum melawan virus. Kami tidak meminta negara untuk mempertaruhkan rakyatnya sendiri," jelas Tedros.
"Kami meminta semua negara untuk menjadi bagian dari upaya global, untuk menekan penyebaran virus di mana-mana," imbuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar