Kamis, 04 Maret 2021

Waduh, Ribuan Vaksin Corona Palsu Jaringan China-Afsel Dijual Secara Online

 Organisasi kepolisian internasional Interpol mengumumkan pembongkaran sindikat yang dicurigai sebagai pembuat vaksin Corona palsu.

Dikutip dari BBC, Interpol mengatakan bahwa kepolisian di China dan Afrika Selatan (Afsel) telah melakukan puluhan kasus penangkapan dan menyita ribuan dosis vaksin Corona palsu.


Di China, polisi telah berhasil melakukan 80 kasus penangkapan. Di sana, mereka menemukan sedikitnya 3.000 dosis vaksin Corona palsu.


Sementara itu, tiga warga negara China dan seorang warga Zambia ditahan di sebuah gudang di Gauteng, Afrika Selatan. Sebanyak 2.400 dosis vaksin Corona palsu ditemukan di tempat itu.


Interpol pun menekankan bahwa vaksin palsu tersebut tidak memiliki izin edar. Disebutkan, vaksin ini tersebar dan dijual secara online.


"Setiap vaksin yang diiklankan di situs web atau dark web, tidak akan sah, tidak akan diuji dan mungkin berbahaya," tegasnya.


Hal ini menjadi perhatian karena vaksin adalah salah satu alat penting untuk mengatasi pandemi COVID-19. Terlebih persaingan ketat di seluruh negara untuk membeli vaksin telah menimbulkan sejumlah kelangkaan, sehingga banyak vaksin palsu bermunculan.


Sekretaris Jenderal Interpol Jurgen Stock pun mengatakan ini hanya 'puncak gunung es' dari kejahatan terkait vaksin Corona.


Pada bulan Desember, Interpol telah mengeluarkan peringatan siaga global di 194 negara untuk bersiap dalam menangani jaringan kejahatan terorganisir yang menargetkan vaksin Corona. Mereka pun memberikan saran tentang cara mengenali produk medis palsu.

https://nonton08.com/movies/target-number-one/


Peneliti Unpad Ungkap Kelebihan Vaksin Rekombinan Anhui untuk COVID-19


Peneliti utama vaksin Anhui dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Rodman Tarigan mengungkap keunggulan vaksin rekombinan dibandingkan jenis vaksin Corona berbasis virus yang dimatikan (inactivated virus) dan virus yang dilemahkan (attenuated virus).

"Berbeda dengan vaksin yang menggunakan platform berupa virus yang dilemahkan atau virus yang dimatikan. Vaksin rekombinan berbasis platform spike glycoprotein (protein S) dari Novel Corona virus, secara teori dapat memicu pembentukan titer antibodi yang lebih tinggi dan mampu memberikan proteksi yang lebih komprehensif," ujar Rodman dalam paparannya di RSP Unpad, Rabu (3/3/2021).


Rodman mengatakan, protein S pada virus Corona ini berfungsi untuk memediasi penempelan dan masuknya virus ke sel makhluk hidup yang terinfeksi. Bila disederhanakan, tidak semua bagian dari virus dijadikan bahan vaksin, tetapi hanya 'rambut yang menempel' atau binding reseptor domain (BDR) dari virus.


Presiden Direktur PT Jakarta Biopharmaticeutical Industry (JBio) Mahendra Suhardono mengatakan, vaksin Anhui menggunakan bagian virus yang menimbulkan penyakit ke manusia.


"Jadi sangat selektif, jadinya yang hanya menempel itu saja, protein S. Jadi itu yang menimbulkan penyakit ke manusia, kita murnikan bagian BDR itu, untuk memberikan hasil yang lebih baik," kata Mahendra.


Setiap relawan, ujar Mahendra, mendapatkan vaksin Anhui tiga kali dengan interval waktu penyuntikan satu bulan. "Untuk memberikan waktu perlindungan yang lebih panjang, dengan pemberian tiga kali memberikan perlindungan lebih aman. Kemungkinan besar akan turun lagi kalau yang hanya sekali atau dua kali, perlu booster lagi," ujar Mahendra.

https://nonton08.com/movies/a-night-of-horror-nightmare-radio/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar