Sering melakukan ejakulasi ternyata dapat mengurangi risiko kanker prostat, lho. Menurut sebuah studi di Harvard Medical School, melakukan ejakulasi sebanyak 21 kali dalam sebulan dapat menurunkan risiko mengidap kanker prostat.
Studi lain yang dilakukan di Australia menyatakan bahwa risiko mengidap kanker prostat dapat dicegah dengan melakukan ejakulasi sebanyak 7 kali dalam seminggu. Namun, perlu diketahui bahwa sebuah studi mengungkap hal ini hanya efektif bagi pria yang berusia 50 tahun ke atas.
Kata peneliti
Langkah-langkah untuk mengurangi risiko kanker sering kali berupa hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Namun, hal seperti ejakulasi yang sering dilakukan oleh banyak pria ternyata bisa mengurangi risiko penyakit ini.
Dikutip dari Healthline, para peneliti sebenarnya belum memahami pasti hubungan terkait seberapa sering ejakulasi dapat melindungi pria dari kanker prostat. Salah satu teori yang dapat dijadikan alasan mengenai hal ini adalah ejakulasi dapat membersihkan kelenjar prostat yang bisa menyebabkan kanker, infeksi, serta penyebab peradangan.
Meski terdapat bukti kuat mengenai bagaimana seberapa sering pria ejakulasi dapat mengurangi risiko kanker prostat, teori yang dijadikan alasan mengapa keduanya berhubungan masih kontroversial, khususnya studi mengenai usia pria saat ejakulasi terjadi.
Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2008 menunjukkan bahwa pria memiliki kemungkinan lebih rendah untuk mengalami kanker prostat jika mereka aktif secara seksual pada usia sekitar 20 hingga 30 tahun. Selain itu, studi tersebut juga menunjukkan bahwa tidak terdapat bukti konklusif yang menyatakan masturbasi memiliki risiko lebih besar terkena kanker prostat daripada hubungan seksual.
Di sisi lain, studi dari Harvard menyatakan bahwa tidak ditemukan adanya peningkatan risiko kanker prostat terkait usia ejakulasi, meskipun terdapat bukti bahwa manfaat ejakulasi meningkat seiring bertambahnya usia pria.
Studi di Australia menemukan bahwa jika pria sering melakukan ejakulasi saat dewasa, maka mereka telah mengurangi risiko kanker prostat. Namun, ejakulasi tidak memberikan perlindungan terhadap kanker ganas. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk memahami hubungan antara kanker prostat dan ejakulasi.
Seberapa banyak ejakulasi mencegah risiko kanker prostat?
Studi yang dilakukan oleh Harvard selama 18 tahun dan telah melibatkan hampir 30 ribu tenaga medis profesional menunjukkan bahwa risiko kanker prostat dapat dicegah hingga 20 persen bagi pria yang melakukan ejakulasi sebanyak 21 kali dalam sebulan, dibandingkan dengan pria yang hanya melakukan ejakulasi sebanyak 7 kali dalam sebulan.
Hasil studi lain mengenai hal tersebut juga ditemukan di Australia, yaitu melakukan ejakulasi sebanyak 7 kali dalam seminggu dapat mengurangi risiko kanker prostat hingga 36 persen.
https://indomovie28.net/movies/one-fine-day-5/
Pakar WHO Laporkan Banyak Kasus Reinfeksi Gegara Varian Baru Corona
Kepala ilmuwan di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan, mengatakan menerima laporan banyak orang kembali terinfeksi (reinfeksi) setelah sembuh dari COVID-19. Orang-orang tersebut tak 'kebal' varian baru virus Corona.
"Kami sekarang mendapatkan laporan orang yang terinfeksi kembali (reinfeksi) dengan varian baru virus Corona," kata Swaminathan, pakar WHO, dikutip dari Express UK, Sabtu (13/2/2021).
"Dan ada beberapa laporan awal dari Afrika Selatan yang menunjukkan bahwa orang yang pernah terinfeksi bisa terinfeksi lagi," jelasnya.
Sampai saat ini, ada tiga varian baru virus Corona yang menjadi perhatian di Inggris yang berasal dari Afrika Selatan, Brasil, dan yang pertama kali diidentifikasi di Kent. Menurut kepala program pengawasan genetik Inggris, varian yang ditemukan di Kent bisa menjadi strain virus yang dominan di dunia.
"Begitu kita berada di atas (virus) atau virus itu bermutasi dan menyebabkan penyakit yang lebih ganas, maka kita bisa berhenti mengkhawatirkannya," ujar Profesor Sharon Peacock.
"Tetapi, saya pikir kita akan melakukan ini selama bertahun-tahun. Menurut saya, kita masih akan melakukan ini 10 tahun ke depan," imbuhnya.
Peringatan ini muncul setelah WHO mengunjungi China untuk mencari asal-usul virus Corona di Wuhan, China. Namun, pencarian ini tidak memberikan hasil dan jawaban dari mana virus itu berasal dan bagaimana bisa menyebar ke manusia.
"Penyelidikan asal virus ini tidak akan selesai dalam dua minggu. Tapi, yang penting adalah ini menjadi dasar untuk melakukan investigasi lebih lama dan bekerja sama dengan pemerintah China," kata ahli virologi di Universitas Georgetown Angela Rasmussen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar