Pakar penyakit menular China Dr Zhong Nanshan menyebut vaksin virus Corona dari negaranya kemungkinan bisa digunakan untuk penggunaan darurat dalam beberapa bulan mendatang atau sekitar awal September.
Sebuah laporan pemerintah 'Fighting COVID-19: China in Action' mengungkap setidaknya lima vaksin yang dikembangkan oleh ilmuwan China sedang menjalani tahap uji coba pada manusia.
Mengutip CGTN, dalam laporan tersebut dituliskan peneliti China tengah berlomba dengan waktu untuk mengembangkan vaksin dengan lima rute teknis seperti vaksin tidak aktif, vaksin asam nukleat, vaksin protein rekombinan, vaksin vektor adenovirus, dan vaksin menggunakan virus influenza yang dilemahkan sebagai vektor.
Adapun vaksin buatan China yang sudah memasuki tahap uji coba ke manusia antara lain:
-Non-replicating viral vector vaccine yang dikembangkan CanSino Biological.
-Inactivated vaccine yang dikembangkan Wuhan Institute of Biological Products.
-Inactivated vaccine yang dikembangkan Beijing Institute of Biological Products
-Inactivated vaccine yang dikembangkan Sinovac
Sebelumnya, Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China Gao Fu mengatakan vaksin corona yang saat ini berada di fase 2 atau fase 3 uji klinis kemungkinan dapat tersedia ketika terjadi gelombang kedua wabah COVID-19.
"Kami berada di garis depan untuk pengembangan vaksin, dan kami mungkin memiliki vaksin yang siap untuk penggunaan darurat pada bulan September," kata Gao dikutip dari CNBC.
"Vaksin yang baru dikembangkan ini, yang masih dalam uji klinis fase dua atau fase tiga, dapat digunakan untuk beberapa kelompok khusus, misalnya petugas kesehatan," lanjutnya.
Para Ahli Kini Cemaskan Penularan Virus Corona Melalui Mata
Beberapa bukti telah menunjukkan bahwa virus penyebab COVID-19 dapat ditularkan melalui mata. Untuk itu para ahli menyarankan orang-orang yang berisiko tinggi harus mengenakan pelindung mata, patuh mempraktikkan jarak sosial dan selalu mengenakan masker.
Orang yang berisiko tinggi tersebut antara lain lansia, mereka yang memiliki penyakit penyerta dan petugas medis.
Ketika berbicara mengenai penularan melalui mata, tidak hanya menyentuh mata yang berpotensi berbahaya. Droplet langsung dari batuk, bersin, dan berbicara dari orang sakit berisiko menularkan virus Corona melalui mata.
Sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal The Lancet meninjau risiko penularan virus jika seseorang menerapkan jarak sosial, mengenakan pelindung wajah atau face shield, masker, dan penutup mata.
Secara khusus, studi tersebut menunjukkan mengenakan pelindung wajah dan kacamata dikaitkan dengan risiko infeksi yang lebih rendah dibandingkan tidak mengenakan penutup mata. Jika mengenakan pelindung mata, risiko turun menjadi 6 persen dari 16 persen.
"Ini adalah rekomendasi saya bahwa jika menangani pasien, kami (tenaga medis) harus mengenakan masker, face shield, dan tetap menjaga kebersihan tangan," ujar kepala pencegahan infeksi di South Shore Health, dikutip dari ABC News.
Tapi bagaimana jika hanya beraktivitas sehari-hari?
Menurut beberapa studi, adalah ide yang lebih baik jika seseorang mengenakan pelindung mata dan masker, terutama jika memiliki masalah medis yang mendasari atau mengunjungi tempat yang berisiko mendatangkan banyak orang, misalnya supermarket.
"Memakai pelindung mata dalam situasi berisiko tinggi tampaknya lebih bijaksana... Kacamata dapat memberikan perlindungan tambahan," kata Dr. Vincente Diaz, spesialis imunologi mata dan infeksius, di Yale University School of Medicine.
Sampai saat ini peneliti masih terus mempelajari tentang virus Corona. Dari apa yang diketahui, penyakit tersebut sangat menular dan dapat masuk ke dalam tubuh melalui banyak jalur.
Perlu digarisbawahi pun jika mengenakan pelindung mata atau face shield, langkah-langkah mitigasi transmisi lainnya seperti mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak sosial tetap harus dilakukan.
https://indomovie28.net/captain-tsubasa-2018-episode-19-subtitle-indonesia/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar