Kamis, 07 Mei 2020

3 Alasan Hindari Junk Food Saat Sahur

Praktis menjadi alasan sebagian orang mengkonsumsi junk food baik saat sahur. Padahal, junk food merupakan makanan yang diolah dengan teknik 'deep frying' yang bisa meningkatkan jumlah lemak dalam tubuh.
Mengonsumsi junk food dalam jumlah berlebihan dapat membuat Anda merasakan nyeri dan tidak nyaman pada bagian abdomen. Junk food juga memiliki kandungan lemak tinggi yang dapat meningkatkan berat badan.

Dikutip dari laman Boldsky, berikut dampak buruk yang ditimbulkan bila terlalu sering mengkonsumsi junk food:

1. Mag
Bagi orang dengan riwayat mag, bisa timbul keluhan tersebut bila terlalu sering mengkonsumsi junk food. Konsumsi rutin dapat menyebabkan rasa terbakar pada bagian dada dan abdomen. Jika Anda telah memiliki masalah mag maka gejalanya dapat menjadi lebih buruk.

2. Tukak Lambung
Luka pada perut atau intestine dapat menyebabkan tukak lambung. Hal tersebut disebabkan karena bakteri Pylori. Konsumsi junk food menyebabkan keasamanan dan luka di lambung anda.

3. Sembelit
Rasa tidak nyaman pada bagian abdomen merupakan salah satu gejala penyakit ini. Sembelit merupakan salah satu isu umum yang sering terjadi. Hal ini disebabkan karena lemak makanan yang terlalu asam dan berat di dalam perut.

Konsumsi junk food berlebihan dapat menyebabkan masalah lain seperti gastritis. Anda dapat mencegahnya dengan membatasi konsumsi junk food.

Gantilah konsumsi junk food dengan makanan yang dipanggang, bakar atau rebus. Konsumsilah makanan sehat seperti bayam, brokoli dan lainnya untuk memenuhi asupan nutrisi Anda.

Beda Corona di Indonesia dengan 3 Tipe Utama di Dunia

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan tipe strain virus Corona di Indonesia berbeda dari tiga tipe utama yang diketahui beredar di dunia.
Hal ini terlihat setelah Lembaga Biologi Molekuler Eijkman berhasil melakukan tiga whole genome sequencing (WGS) dari sampel virus Corona yang ditemukan di Indonesia yang dilakukan untuk mengetahui karakter dari virus.

"Sejauh ini, dari informasi GISAID, ada 3 tipe COVID-19 yang ada di dunia. Ada tipe S, tipe G, dan tipe V. Di luar 3 tipe itu ada yang disebut sebagai tipe lain, jadi yang belum teridentifikasi. Dan ternyata whole genome sequences yang dikirim Indonesia termasuk kategori yang lainnya," kata Bambang beberapa waktu lalu.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Amin Soebandrio, menyebut pihaknya masih belum bisa memastikan dampak dari mutasi virus tersebut. Perlu analisa data rangkaian genetik yang lebih banyak untuk bisa melihat apakah mutasi membawa perubahan fungsi pada virus.

"Kita belum mempelajari sampai sana, mutasi-mutasinya itu bagian mana saja. Apakah mempengaruhi struktur, fungsi, perjalanan penyakit, dan sebagainya. Itu kita belum punya data ke arah sana," kata Prof Amin pada detikcom, Rabu (6/5/2020).

Informasi mengenai perbedaan genetik ini dijelaskan juga akan berpengaruh terhadap pengembangan vaksin virus Corona COVID-19 di Indonesia. Vaksin akan dibuat menyesuaikan dengan tipe yang ada.

Mutasi adalah hal wajar bagi virus. Saat virus Corona menginfeksi sel, virus akan membajak fungsi sel untuk menciptakan jutaan virus baru dengan informasi genetik yang sama. Dalam prosesnya kadang terjadi 'salah ketik' informasi genetik dan ini yang disebut mutasi sehingga genetiknya berbeda dari semula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar