Masker scuba sangat populer belakangan ini, terutama sejak pemerintah dan organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan pemakaian masker kain untuk mencegah virus Corona COVID-19. Selain murah, jenis masker ini juga dinilai nyaman karena bisa melar alias stretch mengikuti bentuk wajah.
Tapi karena tipis dan hanya selapis, apakah cukup aman untuk menangkal virus Corona? Dokter paru dari Omni Hospitals Pulomas dr Frans Abednego Barus, SpP, mengatakan, kemampuan proteksi masker semacam ini memang terbatas.
"Tingkat keamanan tetap di bawah masker standar bedah maupun N95," katanya saat dihubungi detikcom, Minggu (3/5/2020).
Meski begitu, masker scuba tetap aman dipakai untuk menangkal virus Corona asal anjuran lainnya juga dipatuhi. Di antaranya tetap menjaga physical distancing dan selalu mencuci tangan dengan sabun.
Terlepas dari cocok atau tidaknya masker scuba bisa dijadikan masker untuk menangkal Corona, bagaimana cara untuk merawat kain dari bahan dasar scuba ini?
Menurut desainer Vivi Zubedi, merawat kain berbahan dasar scuba tidak terlalu sulit, asalkan saat mencuci jangan dimasukkan ke dalam mesin cuci.
"Ini pribadi saya ya, biasanya saya merawat baju-baju dari bahan dasar scuba cukup dicelup-celup saja sebenarnya di air pewangi dan tidak masuk ke mesin cuci," ujar Vivi saat dihubungi detikcom, Senin (4/5/2020).
Namun, terkait masker yang berbahan dasar dari scuba, ia tidak terlalu paham bagaimana cara merawatnya, karena menurutnya, setiap orang punya pengetahuan sendiri-sendiri.
"Terkait masalah masker scuba saya kurang paham untuk merawatnya, pasti mempunyai treatment sendiri. Masing-masing orang mempunyai pengetahuan sendiri, jadi saya tidak berani mengklaim," kata Vivi.
Corona Melonjak Lagi di Wilayah Ini Usai Lockdown Dilonggarkan
Pandemi virus Corona masih berlangsung, beberapa negara seperti Italia, Denmark, Jerman, China, dan lain-lain sudah mulai melonggarkan kebijakan lockdown. Beberapa wilayah harus menganggung akibatnya.
Bahkan di antara beberapa wilayah harus menghadapi ancaman gelombang kedua virus Corona. Ketika lock down dilonggarkan, kasus COVID-19 malah semakin meningkat.
Berikut ini adalah beberapa wilayah di dunia yang terkena lonjakan kasus saat lockdown mulai dilonggarkan:
China
Pemerintah China pada 8 April lalu telah mencabut lockdown di Wuhan. Warga dapat meninggalkan rumah meskipun dengan syarat yang terdapat pada aplikasi ponsel. Dalam aplikasi tersebut warga yang mendapat QR hijau yang diperbolehkan keluar rumah.
Namun pada Minggu (12/4/2020) lalu, China kembali melaporkan peningkatan jumlah kasus virus Corona. Pemerintah China mengklaim lonjakan kasus ini terjadi karena banyaknya orang-orang yang pindah atau berdatangan dari negara lain.
Jepang
Hokkaido Jepang tiba-tiba menunjukkan peningkatan kasus COVID-19. Hal ini menyebabkan pejabat pemerintah di sana menyatakan keadaan darurat kurang dari sebulan setelah sebelumnya melonggarkan aturan setempat pada 19 Maret.
Gubernur Hokkaido membuat pengumuman pada hari Minggu setelah hampir seminggu mengalami peningkatan kasus sebanyak dua digit, demikian lapor berita Kyodo.
"Kami menghadapi krisis gelombang kedua dalam penyebaran infeksi (coronavirus)," kata Gubernur Naomichi Suzuki, dikutip dari NBC News.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar