Senin, 08 Februari 2021

Duh! Ikan Sepanjang 43 Cm Nyangkut di Tenggorokan Pria Ini

 - Ada-ada saja kecelakaan yang menimpa para pemancing, seperti pria ini yang tak sengaja menelan ikan 43 cm dan tersangkut di tenggorokannya.

Pria asal Kolombia ini jadi sorotan setelah kejadian nahas yang menimpanya. Dikutip dari Oddity Central (4/2), ia mengalami hal berbahaya saat memancing di wilayah Pivijay.


Cerita bermula saat pria 24 tahun ini pergi memancing bersama keluarganya pada 23 Januari 2021. Ia berhasil menangkap seekor ikan kemudian menyadari ada ikan lain yang menarik pancingannya sesaat setelah ia melepas kail.


Tak ingin melepaskan ikan itu, pria ini menaruh ikan hasil tangkapannya yang pertama ke dalam mulut. Ia lantas bergegas mengambil pancingannya untuk menangkap ikan kedua.


Namun ia mengalami hal sial karena ikan di mulutnya tak tergigit dengan benar. Karena banyak bergerak, ikan itu juga berakhir 'terpeleset' ke tenggorokan si pria.


Kondisinya seperti 'terkunci' di tenggorokan. Beruntung, ikan yang ditelan pria itu kabarnya berasal dari family mojarra, yang terkenal dengan tubuh padatnya. Sehingga ikan tidak sepenuhnya menghalangi aliran udara pernafasan si pria.


Pria ini lantas pergi sendiri ke rumah sakit Santander Herrera. Ia tidak bisa menceritakan kejadiannya pada dokter karena tenggorokannya terganggu, namun ia terlihat sulit bernafas.


Pria itu juga memberi kode kondisi dirinya dengan menunjuk-nunjuk ke arah tenggorokan. Dokter lantas memeriksanya menggunakan mesin X-ray.


Diketahui ada seekor ikan sepanjang kurang lebih 43 cm bersarang di tenggorokan si pria. Tim medis lantas melakukan tindakan darurat untuk mengeluarkan ikan tersebut.


Mereka juga membuat video rekaman karena ingin mendokumentasikan kejadian langka ini. Beruntung tim medis berhasil mengeluarkan ikan dari tenggorokan si pria.


Namun pria itu juga harus dirawat di rumah sakit selama dua hari untuk memastikan dirinya sembuh total. Kejadian ikan tersangkut di tenggorokan rupanya bukan pertama kali terjadi.


Sebelumnya kejadian mirip juga terjadi di Mesir sekitar beberapa bulan lalu. Seorang pria hampir meregang nyawa karena tak bisa bernapas akibat ikan yang tersangkut di tenggorokan.


Awalnya pria yang berprofesi sebagai nelayan itu juga menggigit ikan di mulutnya. Tanpa sengaja, ikan itu meluncur ke tenggorokannya.


Hal ini membuat ia sulit bernapas dan lemas karena kekurangan oksigen. Keluarga si pria lantas membawanya ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan.

https://cinemamovie28.com/movies/one-remains/


Ini Perbedaan Vaksin COVID-19 Sinovac dan Pfizer


Saat ini ada berbagai jenis vaksin COVID-19 yang sudah mendapat izin penggunaan, contohnya vaksin buatan Sinovac dan Pfizer. Vaksin buatan Sinovac ramai digunakan di Asia, termasuk Indonesia, sementara Pfizer digunakan negara-negara Barat.

Apa perbedaan vaksin Sinovac dan Pfizer?


Perbedaan vaksin COVID-19 buatan Sinovac dan Pfizer bisa dilihat dari sisi platform yang digunakan, harga, dan kebutuhan tempat penyimpanannya. Berikut rangkuman detikcom dari berbagai sumber:


1. Platform

Vaksin COVID-19 buatan Sinovac dikembangkan dari virus utuh yang sudah dimatikan (inactivated vaccine). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut metode ini sudah terbukti manjur, digunakan juga pada vaksin flu serta polio.


"Hanya saja vaksin yang dibuat dengan cara ini membutuhkan fasilitas laboratorium khusus untuk mengembangkan virus atau bakteri dengan aman, waktu produksinya relatif lama, dan kemungkinan butuh dua atau tiga dosis suntikan," tulis WHO.


Sementara itu vaksin COVID-19 buatan Pfizer diketahui menggunakan platform messenger RNA (mRNA). Vaksin sama sekali tidak mengandung virus, melainkan hanya materi genetik (mRNA) yang bisa menginstruksikan sel tubuh manusia membuat protein spesifik untuk dikenali dan direspons oleh sistem imun.


"Pendekatan ini termasuk relatif baru dalam metode pembuatan vaksin. Sebelum pandemi COVID-19, belum pernah ada vaksin dengan platform ini yang mendapat izin digunakan pada manusia," tulis WHO.


Dari sisi efikasi, vaksin Sinovac disebut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI memiliki efikasi sampai 65,3 persen dalam uji klinis di Bandung, sementara vaksin Pfizer 95 persen. Ada perbedaan efikasi dalam laporan studi yang berbeda, alasannya karena faktor populasi relawan yang terlibat di dalam studi.

https://cinemamovie28.com/movies/the-remains-from-the-shipwreck/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar