Senin, 08 Februari 2021

Ini Perbedaan Vaksin COVID-19 Sinovac dan Pfizer

 Saat ini ada berbagai jenis vaksin COVID-19 yang sudah mendapat izin penggunaan, contohnya vaksin buatan Sinovac dan Pfizer. Vaksin buatan Sinovac ramai digunakan di Asia, termasuk Indonesia, sementara Pfizer digunakan negara-negara Barat.

Apa perbedaan vaksin Sinovac dan Pfizer?


Perbedaan vaksin COVID-19 buatan Sinovac dan Pfizer bisa dilihat dari sisi platform yang digunakan, harga, dan kebutuhan tempat penyimpanannya. Berikut rangkuman detikcom dari berbagai sumber:


1. Platform

Vaksin COVID-19 buatan Sinovac dikembangkan dari virus utuh yang sudah dimatikan (inactivated vaccine). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut metode ini sudah terbukti manjur, digunakan juga pada vaksin flu serta polio.


"Hanya saja vaksin yang dibuat dengan cara ini membutuhkan fasilitas laboratorium khusus untuk mengembangkan virus atau bakteri dengan aman, waktu produksinya relatif lama, dan kemungkinan butuh dua atau tiga dosis suntikan," tulis WHO.


Sementara itu vaksin COVID-19 buatan Pfizer diketahui menggunakan platform messenger RNA (mRNA). Vaksin sama sekali tidak mengandung virus, melainkan hanya materi genetik (mRNA) yang bisa menginstruksikan sel tubuh manusia membuat protein spesifik untuk dikenali dan direspons oleh sistem imun.


"Pendekatan ini termasuk relatif baru dalam metode pembuatan vaksin. Sebelum pandemi COVID-19, belum pernah ada vaksin dengan platform ini yang mendapat izin digunakan pada manusia," tulis WHO.


Dari sisi efikasi, vaksin Sinovac disebut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI memiliki efikasi sampai 65,3 persen dalam uji klinis di Bandung, sementara vaksin Pfizer 95 persen. Ada perbedaan efikasi dalam laporan studi yang berbeda, alasannya karena faktor populasi relawan yang terlibat di dalam studi.


2. Harga

Corporate Secretary PT Bio Farma, Bambang Heriyanto, pernah memprediksi harga vaksin Corona Sinovac sekitar Rp 200.000 per dosisnya.


"Produksi bulk dari Sinovac kami sudah coba hitung dan tujuannya tetap tidak memberatkan pemerintah. Kisarannya di Rp 200 ribu. Itu masih kisaran ya, mudah-mudahan bisa lebih murah lagi," kata Bambang beberapa waktu lalu.


Harga vaksin pfizer diprediksi berbagai sumber dijual dengan harga sekitar US$19,50 atau Rp 275.000 per dosis.


3. Tempat penyimpanan

Berbagai jenis vaksin perlu disimpan dalam tempat yang bersuhu rendah. Tujuannya untuk menjaga kandungan tidak terdegradasi atau rusak kemudian memengaruhi efektivitas vaksin.


Vaksin COVID-19 buatan Sinovac diketahui bisa disimpan dalam suhu sekitar 2-8 derajat celsius. Sementara vaksin COVID-19 buatan Pfizer butuh tempat penyimpanan minus 70-80 derajat celsius.


Karena butuh suhu penyimpanan yang ekstrem vaksin COVID-19 Pfizer disebut-sebut memiliki tantangan tersendiri untuk didistribusikan.

https://cinemamovie28.com/movies/the-host-2/


Cerita Ari Lasso Positif Corona, Sempat 'Ngos-ngosan' dan 14 Hari Demam Tinggi


 - Ari Lasso ungkap dirinya sempat terpapar COVID-19. Di awal terinfeksi, ia mengeluh demam tinggi hingga akhirnya terkonfirmasi positif COVID-19 dengan CT Value di angka 16-17.

"Jadi jam 4 sore ngerasa nggak enak badan, padahal sorenya sempat rekaman dengan segala protokol kesehatan," ceritanya dalam YouTube Ari Lasso TV, sembari menceritakan sempat istirahat dari semua agenda di 5 Januari.


"Sampai malam meriang, seperti biasanya 36,8 sampai 36,9 lah. Besoknya bangun tidur kaget, sudah mulai di atas 37," bebernya.


Rasa curiga terpapar COVID-19 pun muncul usai demam yang dialaminya tak kunjung turun selama tiga hari. Ia pun melakukan swab antigen dengan hasil positif dan berlanjut ke tes PCR, dengan hasil yang sama, positif COVID-19.


"Sebenarnya yang saya rasakan itu nggak ada yang lain kecuali demam tinggi, demam tidak berkesudahan, sakit," kata Ari Lasso di unggahan videonya di YouTube, Sabtu (7/2/2021).

https://cinemamovie28.com/movies/the-child-remains/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar