Senin, 08 Februari 2021

Vaksin Sinovac Sudah Bisa untuk Lansia, Interval Dosisnya Beda Lho!

 - Vaksin COVID-19 buatan Sinovac-BioTech, CoronaVac, mulai bisa diberikan pada lansia mulai hari ini. Jika pada populasi umum interval dosis 1 dan dosis 2 adalah 14 hari, pada lansia intervalnya berbeda.

"Pada tanggal 5 Februari 2021 Badan POM menerbitkan EUA (Emergency Use Authorization) vaksin CoronaVac untuk usia 60 tahun ke atas, dengan 2 dosis suntikan vaksin yang diberikan dalam selang waktu 28 hari," kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito, Minggu (7/2/2021).


Lebih detail, fact sheet di Pusat Informasi Obat Nasional (PIONAS) menjelaskan bahwa dosis vaksin COVID-19 Sinovac pada lansia diberikan secara intramuskular (ke dalam otot) sebanyak 0,5 mL dengan interval dua dosis selama 28 hari.


BPOM juga menegaskan, populasi lansia merupakan kelompok berisiko tinggi sehingga pemberian vaksin harus dilakukan dengan hati-hati. Proses screening yang cermat akan dilakukan dokter memutuskan untuk memberikan vaksinasi.


Beberapa kondisi yang perlu mendapat perhatian khusus pada lansia adalah:


Kesulitan untuk naik 10 anak tangga

Penurunan aktivitas fisik (sering merasa kelelahan)

memiliki 4 dari 11 penyakit (Hipertensi, diabets, kanker (selain kanker kulit kecil), penyakit paru kronis, serangan jantung, gagal jantung kongestif, nyeri dada, asma nyeri sendi, stroke dan penyakit ginjal)

Mengalami kesulitan berjalan kira-kira 100 sampai 200 meter

Penurunan berat badan yang bermakna dalam setahun

https://cinemamovie28.com/movies/remains/


Prediksi 10 Tahun Vaksinasi yang Bikin COVID-19 Awet di Indonesia


 Sebuah studi di John Hopkins University memprediksi proses vaksinasi di Indonesia akan memakan waktu 10 tahun lebih untuk mencapai herd immunity. Ini didasarkan pada laju vaksinasi yang dinilai lambat.

Herd immunity atau kekebalan kelompok dicapai ketika 70-85 persen populasi sudah mendapat vaksinasi COVID-19. Menurut data yang dihimpun Bloomberg per 5 Februari, Indonesia mencatatkan laju vaksinasi 60.433 dosis perhari.


Jika tidak ditingkatkan, diperkirakan butuh waktu lebih dari 10 tahun untuk mencapai sasaran vaksinasi yaitu 70-85 persen populasi.


Hingga Minggu (7/2/2021), Indonesia berhasil memvaksinasi 784.318 tenaga kesehatan. Angka ini mencakup 48,20 persen dari target vaksinasi tahap pertama. Suntikan dosis kedua baru didapat 139.131 tenaga kesehatan.


Sementara itu, juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmidzi menegaskan target vaksinasi selama 12 bulan masih bisa dicapai. Laju vaksinasi masih akan terus ditingkatkan.


"Kita akan menyelesaikan vaksinasi sebisa mungkin dalam 12 bulan sesuai arahan Pak Jokowi untuk mempercepat vaksinasi jadi makin cepat dan makin banyak," jelasnya.


WHO Bantah Rumor Vaksin COVID-19 Bisa Bikin Mandul


 Beragam informasi keliru terkait vaksin COVID-19 dapat menghambat kelancaran program vaksinasi. Masyarakat yang kebingungan bisa jadi enggan disuntik vaksin sehingga jadi lebih sulit untuk menimbulkan kekebalan kelompok atau herd immunity.

Satu contoh rumor yang populer adalah tuduhan vaksin COVID-19 dapat menyebabkan kemandulan. Disebutkan bahwa kandungan yang ada pada vaksin dapat menyerang protein penting yang dibutuhkan dalam perkembangan plasenta.


Direktur program imunisasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Kate O'Brien, kembali menegaskan bahwa rumor itu keliru.


"Vaksin yang diberikan ke orang-orang tidak bisa menyebabkan kemandulan. Ini adalah rumor lama yang sering muncul juga pada banyak vaksin lain dan selama ini tidak pernah terbukti kebenarannya," kata Kate seperti dikutip dari halaman resmi Twitter WHO, Senin (8/2/2021).


"Tidak ada vaksin yang bisa menyebabkan kemandulan," lanjutnya.


Sejauh ini beragam studi telah menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 yang telah mendapat izin terbukti dapat memberikan efek perlindungan. Orang yang divaksinasi dapat mencegah infeksi yang menimbulkan gejala sedang hingga parah.


Sementara untuk efek samping vaksin, Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) melaporkan hanya ada efek samping yang ringan dan tidak berbahaya.


"Laporan yang masuknya pegal, nyeri di tempat suntikan, kemerahan, lemas, demam, mual, perubahan nafsu makan," kata Ketua Komnas KIPI, Prof Dr dr Hinky Hindra Irawan Satari, SpA(K), beberapa waktu lalu.

https://cinemamovie28.com/movies/the-remains-of-the-day/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar