Gerai McDonald's Sarinah tutup pada Minggu (10/5/2020) menjadi momen emosional bagi sebagian orang yang punya kenangan di tempat nongkrong legendaris tersebut. Namun kerumunan yang terjadi di tengah pandemi justru menuai cibiran.
Kerumunan pengunjung terjadi dalam momen perpisahan dengan pengunjung McDonald's Sarinah. Padahal dalam masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kegiatan yang menimbulkan kerumunan orang tidak diperbolehkan. Sebenarnya apa sih yang terjadi sehingga aturan PSBB banyak dilanggar dan tidak pakai masker saat keluar rumah?
Psikolog klinis Kasandra Putranto dari Kasandra & Associate mengatakan, memang ada dua pendapat terhadap penanganan COVID-19, yang pertama adalah total lockdown dan Herd Immunity. Dua pendapat yang berbeda ini kemudian membuat sebagian orang tetap berharap bisa menjalani aktivitas seperti biasanya. Sedangkan sebagian lain ingin pelaksanaan PSBB tetap berjalan.
"Dengan adanya dua alternatif ini sehingga tentu saja pendapat orang orang banyak terbelah ada yang masih berharap untuk tetap bisa menjalankan fungsi kehidupan sehari-hari sementara yang lain menginginkan untuk pembatasan," kata Kassandra saat dihubungi detikcom Senin (11/5/2020).
Kasandra menambahkan, pada dasarnya semua akan kembali kepada kapasitas pemrosesan informasi di dalam otak mereka yang lebih banyak dipengaruhi oleh unsur logis dan rasional. Ini tentu akan berusaha menjaga diri dari perilaku yang mungkin akan berpotensi memberikan dampak negatif terhadap kesehatan diri dan keluarga.
Ia mengatakan, jika seseorang yang dipengaruhi oleh otak kanan akan dipengaruhi emosinya, maka mereka akan mengikuti dorongan impulsnya untuk menampilkan perilaku yang berbeda.
"Sementara mereka yang dipengaruhi oleh otak kanan tentu akan dipengaruhi oleh emosinya sehingga lebih mengikuti dorongan impuls untuk menampilkan perilaku yang berbeda," pungkasnya.
5 Hal yang Perlu Diketahui soal Mutasi Virus Corona
Virus Corona COVID-19 kini diketahui telah bermutasi dan menjadi kekhawatiran di tengah masyarakat. Beberapa penelitian mengatakan, mutasi ini membuat virus lebih berbahaya, tetapi ada juga yang mengatakan itu membuatnya lebih lemah.
Dikutip dari The Guardian, ada beberapa hal yang perlu diketahui tentang mutasi virus Corona sebagai berikut.
1. Apakah virus bermutasi?
Semua virus bermutasi, tak terkecuali virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Mutasi ini muncul saat virus mereplikasi diri di dalam sel dan menyalin kode genetiknya. Pada manusia, gen ditulis dalam DNA dan beruntai ganda, sedangkan virus corona dengan RNA dan beruntai tunggal.
2. Seberapa cepat bermutasi?
Virus Corona cukup stabil saat bermutasi. Para ilmuwan telah menganalisis 13.000 sampel di Inggris sejak pertengahan Maret, dan menemukan bahwa mutasi baru muncul sekitar dua kali dalam sebulan.
Tingkat mutasi juga perlu diketahui, karena semakin cepat virus bermutasi akan mengubah perilakunya dalam menginfeksi. Jika virus berkembang cepat, bisa jadi akan lebih sulit membuat vaksin untuk melawannya.
Selain itu, beberapa bagian virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh bisa jadi sudah berubah, sehingga sulit ditangani oleh imunitas. Hal ini disebut mirip dengan virus influenza yang bermutasi dengan cepat, sehingga butuh vaksin yang berbeda tiap tahunnya.
3. Bagaimana bisa jenis virus Corona bervariasi di dunia?
Kode genetik virus Corona di seluruh dunia menunjukkan terbagi menjadi beberapa kelompok saat menyebar. Hal ini pun dipandang wajar oleh peneliti.
Para peneliti di Jerman mengidentifikasi tiga kelompok genetik utama virus Corona pada bulan April lalu, yang mereka beri nama A, B, dan C. Kelompok A dan C sebagian besar ditemukan di Eropa dan Amerika, sedangkan B lebih umum di Asia Timur.
4. Kenapa mutasi penting untuk diketahui?
Mutasi ini bisa menjadi peluang untuk menghambat penyebaran virus Corona di dunia, tapi mutasi juga berpotensi membuat virus lebih mudah menyebar. Ini juga bisa membuat virus lebih efisien dan berbahaya dalam menginfeksi sel tubuh manusia.
Menurut Profesor Nick Loman, di University of Birmingham, saat virus bermutasi, para peneliti akan mempelajarinya dan bisa digunakan untuk melacak infeksi dari satu orang ke kelompok. Bisa juga untuk melacak wabah dan menemukan kasus penularan dari asalnya.
Tapi, Prof Loman menegaskan penelitian ini harus dipantau secara intensif. Hal ini karena akan berguna untuk mengetahui bagaimana virus bermutasi dan bereaksi terhadap obat dan vaksin yang ada nantinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar